China sambut usul Putin untuk adakan KTT soal Iran

id China, dukung usul Rusia,KTT tentang Iran,embargo senjata Iran,Amerika Serikat

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Hassan Rouhani menghadiri pertemuan di sela-sela konferensi tingkat tinggi Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Bishkek, Kyrgyzstan, Jumat (14/6/2019). (REUTERS/SPUTNIK)

Beijing (ANTARA) - Pemerintah China, Senin, menyambut usul Presiden Rusia Vladimir Putin agar para pemimpin dunia mengadakan konferensi tingkat tinggi guna menghindarkan "konfrontasi" menyangkut ancaman Amerika Serikat untuk mengupayakan sanksi-sanksi PBB terhadap Iran kembali diberlakukan.

AS pada Jumat (14/8) tidak berhasil menggolkan usahanya agar PBB memperpanjang masa embargo senjata terhadap Iran.

Rusia dan China menentang perpanjang embargo tersebut, yang akan berakhir pada Oktober mendatang berdasarkan kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan negara-negara berpengaruh.

Dalam pemungutan suara di Dewan Keamanan pada Jumat, 11 negara anggota, termasuk Prancis, Jerman dan Inggris, menyatakan abstain. Pemungutan suara tersebut hanya menghasilkan dua suara dukungan, yaitu dari AS sendiri dan Republik Dominika.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian, yang berbicara di Beijing, mengatakan kegagalan resolusi AS "sekali lagi menunjukkan bahwa tindakan sepihak tidak akan mendapat dukungan luas, dan perilaku hegemoni tidak akan berhasil".

Amerika Serikat perlu mengakhiri sanksi sepihak dan menerapkan sikap rasional, kembali ke "jalur yang benar" dalam menghormati kesepakatan nuklir Iran dan keputusan Dewan Keamanan, Zhao menambahkan.

"Adapun proposal Rusia untuk penyelenggaraan KTT telekonferensi tentang masalah nuklir Iran, China menyampaikan sambutan dan apresiasi," katanya.

"Kami bersedia terus menjaga komunikasi dan koordinasi yang erat dengan semua pihak terkait untuk bersama-sama mengupayakan penyelesaian politik atas masalah nuklir Iran."

Presiden AS Donald Trump mengatakan ia mungkin tidak akan berpartisipasi dalam KTT semacam itu.

China, yang memiliki hubungan ekonomi dan diplomatik erat dengan Iran, kerap berselisih dengan pemerintahan Trump atas sikap kerasnya terhadap Teheran.

Sumber: Reuters
Baca juga: Rusia sebut sanksi unilateral di tengah pandemi "sangat konyol"
Baca juga: Google: Kampanye Trump dan Biden target peretas China dan Iran
Baca juga: Kontra intelijen AS peringatkan soal Rusia, China, Iran campuri pemilu

Pewarta : Tia Mutiasari
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar