Peneliti: Diversifikasi salah satu instrumen capai ketahanan pangan

id ketahanan pangan,diversifikasi pangan,food security

Ilustrasi. Petani menanam padi dengan menggunakan mesin penanam padi (transplanter) saat pelaksanaan tanam raya di Pakuli Utara, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. ANTARA/Mohamad Hamzah/foc.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan diversifikasi pangan merupakan salah satu instrumen untuk mencapai ketahanan pangan atau food security di Tanah Air.

Menurut Felippa, selama ini pemerintah selalu fokus untuk mencapai swasembada pangan. Padahal, swasembada bukanlah hal yang mudah dicapai mengingat banyaknya faktor pada sektor pertanian Indonesia yang tidak mendukung tujuan tersebut.

"Keadaan Indonesia di masa sekarang sangat berbeda dengan Indonesia pada saat sukses mencapai swasembada pangan. Untuk itu pemerintah harus realistis dan melihat adanya kemungkinan untuk menggunakan pendekatan lainnya, salah satunya adalah diversifikasi pangan," kata Felippa di Jakarta, Selasa.

Ada pun ketahanan pangan merupakan kondisi di mana ketersediaan pangan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang untuk setiap saat dan setiap individu mempunyai akses untuk memperolehnya, baik secara fisik maupun ekonomi.

Felippa menjelaskan diversifikasi pangan juga perlu didukung dengan kebijakan perdagangan terbuka (open trade) untuk pangan sehingga masyarakat memiliki akses kepada pangan bergizi dengan harga terjangkau.

Ia menilai diversifikasi pangan bisa menjadi pilihan daripada hanya fokus pada satu jenis komoditas pangan saja. Namun demikian, diversifikasi pangan tidak akan terwujud kalau pemerintah tetap menjadikan swasembada sebagai tujuan utama.

Hal ini dikarenakan masyarakat akan memilih komoditas yang tersedia dalam jumlah banyak. Penyediaan pangan, lanjutnya, kini tidak hanya soal memenuhi kebutuhan masyarakat saja.

Menurut dia, penyediaan pangan kini juga termasuk menyediakan pangan yang bergizi untuk masyarakat dan menciptakan rantai pasok pangan yang berkelanjutan untuk masyarakat.

Ia menilai rantai pasok pangan yang ada belum berkelanjutan sehingga seringkali menimbulkan kekisruhan, seperti naiknya harga komoditas pangan karena komoditas tersebut tiba-tiba menghilang dari pasaran dan sulit didapat.

"Kelancaran rantai pasok juga perlu dipastikan, terutama di masa pandemi seperti sekarang ini, supaya tidak ada daerah yang mengalami kelangkaan pasokan kebutuhan pangan," kata dia.

Selain diversifikasi pangan, Felippa juga mengingatkan urgensi keterlibatan Indonesia dalam perdagangan pangan internasional. Perdagangan internasional tetap dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca juga: Peneliti: Pandemi momentum perbaiki kerentanan sistem pangan nasional
Baca juga: Kasad terus matangkan komponen cadangan dan ketahanan pangan

 

Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar