PM Lebanon: Virus corona bisa 'tak terkendali'

id Lebanon,virus corona,COVID-19,ledakan Beirut

Para pekerja memperbaiki bangunan yang rusak akibat ledakan di Beirut, Lebanon, Jumat (21/8/2020). Warga Lebanon memulai upaya rekonstruksi menyusul ledakan pada 4 Agustus yang mengguncang Pelabuhan Beirut dan menewaskan sedikitnya 177 orang. ANTARA FOTO/Xinhua-Bilal Jawich/hp.

Beirut (ANTARA) - Perdana menteri sementara Lebanon Hassan Diab, Rabu (26/8), mengatakan wabah virus corona di negaranya bisa tak terkendali setelah penularan virus meningkat pascaledakan di Beirut pada 4 Agustus.

Kasus COVID-19 bertambah dua kali lipat selama dua pekan setelah ledakan itu.

Wabah corona menyebar di rumah-rumah sakit, tempat para korban ledakan dirawat, kata kalangan medis.

"Kasus meningkat dalam jumlah besar, dan kalau ini berlanjut, kita akan kehilangan kendali atas epidemi ini," kata Diab melalui pernyataan yang dikeluarkan oleh Dewan Pertahanan Agung.

Lebanon pada Rabu mencatat 557 pengidap baru COVID-19 dan satu kematian. Sehari sebelumnya, 12 orang meninggal akibat penyakit itu.

Menteri kesehatan untuk pemerintah sementara Lebanon, Hamad Hassan, mengatakan daya tampung rumah sakit perlu ditingkatkan dalam menghadapi peningkatan kasus corona.

Pemerintah pada Jumat (21/8) memberlakukan karantina wilayah sebagian untuk membendung penularan virus di masyarakat.

Namun, penguncian tersebut, termasuk penerapan jam malam mulai pukul 18.00 hingga 06.00, masih memperbolehkan warga untuk membersihkan reruntuhan, melakukan perbaikan, dan mengantarkan bantuan di lingkungan yang terkena dampak ledakan.

Bandara akan tetap beroperasi. Calon penumpang diharuskan menjalani tes PCR sebelum terbang dan saat tiba di negara tujuan.

Di tengah kekhawatiran atas peningkatan kasus, serikat pemilik hotel, bar, kafe, dan restoran mengatakan akan mendorong anggotanya untuk tidak memedulikan aturan jam malam.

Sikap serikat itu dikritik oleh Menteri Dalam Negeri Mohammed Fahmi. Ia mengancam bahwa pasukan keamanan akan mengambil tindakan.

Sebuah aplikasi pesan-antar makanan yang populer mengatakan akan memulai kembali pengiriman hingga pukul 23.00.

Pada Rabu, presiden sementara Michel Aoun mengatakan komite virus corona yang dibentuk pemerintah sedang membahas langkah untuk membuka kembali bisnis secara aman, mengingat kegiatan itu sangat penting bagi ekonomi.

Sumber: Reuters

Baca juga: Kuwait akan bangun kembali silo Lebanon yang hancur akibat ledakan

Baca juga: Menteri: Lebanon perlu 'lockdown' dua minggu


 

Pewarta : Tia Mutiasari
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar