AP II ciptakan pelatihan bagi personel bandara berbasis realitas maya

id Angkasa Pura II,personel bandara,virtual reality,realitas maya,pelatihan

Salah satu fitur dalam pelatihan berbasis realitas maya yang diciptakan PT Angkasa Pura II untuk meningkatkan kemampuan bagi personel bandara di tengah pandemi COVID-19. (Angkasa Pura II)

Jakarta (ANTARA) - PT Angkasa Pura II (Persero) melalui Unit Airport Learning Center menciptakan “Airport Digital Expedition Academy” yang menyediakan pelatihan berbasis realitas maya atau “virtual reality” (VR Training) pertama di Indonesia bagi personel bandara.

Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis mengatakan peluncuran “Airport Digital Expedition Academy” menyediakan berbagai aspek pelatihan berbasis digital dan yang pertama diterapkan adalah dengan menggunakan perangkat ‘virtual reality”.

Lebih lanjut, ujar Muhammad Awaluddin, berdasarkan suatu penelitian pelatihan berbasis realitas maya sebesar 75 persen lebih efektif dibandingkan dengan misalnya diskusi kelompok (50 persen), demonstrasi (30 persen) dan audio-visual (20 persen)

Adapun, lewat teknologi realitas maya berbagai skenario situasi yang mengancam keamanan dan keselamatan di bandara dapat disimulasikan mendekati kenyataan sebagai materi latihan bagi personel.

Di dalam tahap awal, pelatihan berbasis teknologi realitas maya disiapkan bagi personel pengamanan penerbangan atau “aviation security” (Avsec), pengatur pergerakan di apron atau “apron movement control” (AMC), serta Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK).

Avsec, AMC dan PKP-PK sendiri merupakan tiga unit operasi mandatori di setiap bandara agar suatu bandara dapat beroperasi denga standar dan prosedur berbasis 3S+1C.

“Pelatihan berbasis ‘virtual reality’ sangat tepat untuk melihat kemampuan personel bandara secara terukur dan detail. Misalnya, melalui teknologi virtual reality dapat dengan mudah untuk melakukan passenger profiling dan dapat dengan efektif disimulasikan misalnya untuk kondisi penumpang yang terlihat grogi karena membawa narkoba atau terduga teroris yang dapat mengancam keamanan, dan itu harus bisa diprofiling oleh Avsec.

Untuk personil PKP-PK juga dapat mencoba dan mengukur lebih tepat strategi apa untuk mengatasi suatu insiden terkait yang mengancam keselamatan penerbangan di bandara,” katanya.

Dia menambahkan pelatihan menggunakan teknologi virtual reality ini sama halnya dengan pelatihan pilot menggunakan simulator.

“Kami berharap keahlian personel operasi bandara akan semakin baik dan terasah secara berkelanjutan,” jelas Awaluddin.

Pelatihan berbasis teknologi realitas maya ini akan mengambil porsi 75 persen dari total kurikulum latihan personel, sementara sebesar 25 persen masih akan dilakukan pelatihan secara fisik.

“Di tengah pandemi ini, pelatihan berbasis teknologi virtual reality juga sangat tepat dilakukan dibandingkan dengan kita tetap secara penuh menggelar pelatihan konvensional yang mengharuskan adanya orang berkumpul dalam jumlah banyak,” jelas Muhammad Awaluddin.

Perangkat realitas maya yang digunakan dalam pelatihan personel PT Angkasa Pura II adalah VR Headset, VR-ready computer, VR gloves, Gas & break foot pedals dan joysticks. Perangkat tersebut dilengkapi juga dengan perangkat lunak atau modul untuk pelatihan.

Seluruh perlengkapan tersebut diinstalasi di gedung Airport Learning Center (ALC) yang ada di kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

ALC sendiri adalah pusat pelatihan pendidikan milik PT Angkasa Pura II untuk mengantisipasi perubahan di masa mendatang terkait Business Model Variability, Infrastructure/Operation Complexity, dan kebutuhan Dynamic Competencies bagi para personel operasi bandara.


Pewarta : Juwita Trisna Rahayu
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar