Negosiasi dagang EU terhenti, Brexit mungkin akan tanpa kesepakatan

id Brexit,Inggris,Uni Eropa,tanpa kesepakatan,perundingan,perdagangan

Pengunjuk rasa anti-Brexit Steve Bray berdiri di samping pesan yang berhubungan dengan Brexit di luar Houses of Parliament di London, Britain, Rabu (17/6/2020). REUTERS/Toby Melville/foc/cfo (REUTERS/TOBY MELVILLE)

London (ANTARA) - Inggris sudah memulai putaran baru pembicaraan perdagangan terkait Brexit dan memperingatkan Uni Eropa (EU) bahwa Inggris sedang meningkatkan persiapan untuk meninggalkan kelompok negara-negara Eropa itu, tanpa kesepakatan.

Brexit, atau pemisahan Inggris dari Uni Eropa, kemungkinan besar akan berlangsung tanpa kesepakatan setelah kedua pihak berselisih mengenai persyaratan yang mengatur perdagangan senilai hampir 1 triliun dolar AS (sekitar Rp14.793 triliun)

Inggris meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari namun pembicaraan tentang persyaratan perdagangan sejauh ini belum banyak mencapai kemajuan.

Sementara itu, waktu terus berjalan menuju tenggat, yaitu Oktober untuk membuat kesepakatan baru, dan akhir Desember untuk pengaturan transisi status quo.

Para diplomat mencoba mengukur apakah Perdana Menteri Boris Johnson hanya menggertak, atau serius, dalam membiarkan akhir yang penuh gejolak pada Brexit, topik yang sudah bergulir selama empat tahun.

Kepala juru runding Inggris soal Brexit, David Frost, kembali mengatakan negaranya tidak takut keluar dari EU tanpa ada kesepakatan.

"Kami sekarang telah berunding selama enam bulan dan tidak bisa lagi membahas rencana yang sudah banyak dibahas. Kami perlu melihat Uni Eropa bersikap lebih realistis tentang status kami sebagai negara independen," kata Frost.

"Kalau mereka tidak bisa seperti itu dalam waktu sangat terbatas yang tersisa, kami akan berdagang dengan persyaratan seperti yang dimiliki EU dengan Australia, dan meningkatkan persiapan kami untuk menghadapi akhir tahun."

Uni Eropa pada Senin (7/9) memperingatkan Inggris bahwa reputasi internasionalnya sebagai pilar Barat akan ternoda.

EU juga memperingatkan negara itu bahwa tidak akan ada kesepakatan perdagangan, setelah Financial Times melaporkan bahwa London mungkin akan melemahkan perjanjian Perjanjian Penarikan yang ditandatangani pada Januari.

Sejumlah diplomat Eropa mengatakan Inggris sedang bermain-main dengan Brexit, yaitu dengan mengancam akan menghentikan proses dan menantang Brussel untuk berkompromi terlebih dahulu.

Namun, sejumlah lainnya khawatir bahwa Johnson mungkin melihat Brexit yang tanpa kesepakatan sebagai gangguan berguna untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis virus corona.

Putaran terakhir perundingan di London kemungkinan besar akan berlangsung alot. Inggris mengatakan EU tidak bisa memahami bahwa pihaknya sekarang adalah negara independen.

Kelompok negara-negara Eropa itu, yang lelah menghadapi kekhawatiran dan perselisihan tentang Brexit, mengatakan mereka membutuhkan informasi spesifik dari London.

EU juga menyatakan Inggris tidak boleh membuat aturan sendiri dan memiliki akses istimewa ke pasarnya.

Tanpa kesepakatan, hubungan perdagangan dan keuangan antara Inggris --ekonomi terbesar keenam di dunia-- dan Uni Eropa --kelompok perdagangan terbesarnya-- akan berantakan.

Keadaan itu kemungkinan akan menyebarkan malapetaka di kalangan pasar dan bisnis.

Sumber: Reuters

Baca juga: EU tuntut kemungkinan veto atas aturan dan UU Inggris pasca-Brexit

Baca juga: Menteri Keuangan Inggris lihat tanda menjanjikan pemulihan ekonomi

Pewarta : Tia Mutiasari
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar