Hingga 2024 Kementan targetkan konsumsi beras turun 7 persen/tahun

id beras,konsumsi beras,pangan,diversifikasi pangan,kementan

Ilustrasi. Pekerja mengemas beras di Gudang Bulog Subdivre Lebak-Pandeglang di Lebak, Banten, Kamis (3/9/2020). . ANTARA FOTO/Muhamamd Bagus Khoirunas/agr/aww.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan tingkat konsumsi beras secara nasional turun sebesar 7 persen menjadi 85/kg/kapita per tahun dalam lima tahun ke depan atau hingga 2024.

Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Riwantoro di Jakarta, Rabu mengatakan, penurunan konsumsi beras sebesar itu setara 1,77 juta ton atau senilai Rp17,78 triliun.

"Namun dengan catatan, penurunan konsumsi beras bisa dicapai asalkan ada intervensi dari pemerintah. Tanpa intervensi, penurunan konsumsi beras hanya mampu mencapai posisi 91,2 per kg per kapita per tahun," katanya dalam Diskusi Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bertemakan "Diversifikasi Pangan Kokohkan Ketahanan Pangan Nasional" .

Khusus tahun 2020, lanjutnya, rata-rata konsumsi beras ditargetkan turun ke posisi 92,9 per kg per kapita per tahun dari posisi tahun lalu sebesar 94,9 per kg per kapita per tahun.

"Kami targetkan ada satu penurunan pangan beras kita dan itu harus diikuti dengan kenaikan konsumsi pangan lokalnya. Peluang diversifikasi besar karena masyarakat ingin hidup sehat dan terdapat peluang bisnis UMKM," ujarnya.

Terkait program diversifikasi atau penganekaragaman pangan, Riwanto menyatakan BKP memiliki strategi jangka menengah dan jangka panjang untuk mewujudkannya.

Riwantoro menyebutkan diversifikasi pangan bertujuan mengantisipasi krisis, penyediaan pangan alternatif, menggerakan ekonomi dan mewujudkan sumber daya manusia yang sehat dengan sasaran menurunkan ketergantungan konsumsi beras.

Saat ini, setiap provinsi difokuskan memproduksi panganan lokal selain beras, tambahnya, ada enam komoditas pangan diantaranya ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang dan sorgum.

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi IPB University Dr. Sahara menuturkan pandemi COVID-19 menjadi momentum tepat untuk mempercepat diversifikasi pangan.

"Karena itu, pola pangan harus diubah bahwa beras bukan satu-satunya sumber karbohidrat. Selama ini, pemerintah masih terlalu fokus pada pengembangan pangan jenis beras. Padahal, Indonesia memiliki ragam jenis pangan yang sangat berlimpah," katanya.

Saat ini, menurut dia, Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 110 jenis rempah dan bumbu, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, dan 40 jenis bahan minuman.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri mengatakan, ada potensi pangan lokal yang luar biasa dalam mendukung program diversifikasi pangan.

"Kita memiliki pangan lokal di luar beras. Program diversifikasi membantu masyarakat Indonesia swasembada pangan," katanya

Menurut dia, perlu upaya untuk mendorong pasar guna memperkenalkan produk agar citra pangan lokal ditingkatkan sehingga menarik semua orang untuk mengkonsumsi.

Baca juga: Konsumsi beras berlebih, Kementan inisiasi diversifikasi pangan
Baca juga: Pakar ingatkan waspadai perubahan pola konsumsi beras ke gandum

 

Pewarta : Subagyo
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar