Situasi COVID-19 AS dan lambatnya penanganan Pemerintahan Trump

id donald trump,AS peringkat pertama COVID-19 dunia,pandemi virus corona,kepemimpinan Trump,lambatnya trump tangani corona

Dokumentasi - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melihat karyawan di jalur perakitan membuat masker pelindung untuk penyakit virus korona (COVID-19) dalam sebuah kunjungan ke fasilitas manufaktur Honeywell di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat, Selasa (5/5/2020). REUTERS/Tom Brenner/aww/cfo.

Jakarta (ANTARA) -

Amerika Serikat adalah negara yang paling parah terpukul oleh pandemi virus corona jenis baru atau yang dikenal COVID-19.

Melansir data dari laman Worldometers, hingga Minggu (13/9/2020) siang, negeri adidaya Amerika Serikat menempati posisi pertama dengan lebih dari 6,6 juta kasus virus yang dikonfirmasi dan lebih dari 198 ribu kematian.

Lonjakan kasus virus corona di Amerika Serikat tidak terlepas oleh kebijakan Presiden Donald Trump yang lambat dalam mengambil langkah-langkah signifikan untuk mengatasi penyebaran virus corona.

Sebuah jajak pendapat yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Pew terhadap 4.917 orang dewasa Amerika pada 7-12 April menunjukkan, sebanyak 65 persen warga AS mengatakan Trump lamban dalam merespon di saat kasus COVID-19 pertama kali dilaporkan di negara lain, menurut laporan AFP.

Sementara itu, sebanyak 52 persen warga mengatakan komentar publik Trump mengenai wabah COVID-19 mendorong pemikiran bahwa situasi yang ada lebih baik dari yang sebenarnya terjadi.

Kemudian, sebanyak 39 persen warga mengatakan bahwa Trump mempresentasikan situasi seperti apa adanya.

Sedangkan 8 persen warga menyebut Trump membuat situasi tampak lebih buruk daripada kenyataannya.

Survei itu juga melaporkan bahwa 73 persen orang dewasa AS mengatakan hal buruk masih akan terjadi terhadap Amerika Serikat.

Selain respon Trump yang santai menanggapi wabah virus corona, orang nomor satu di AS itu juga tidak mendengar peringatan dari pakar kesehatan.

Salah satu contohnya adalah saat Trump tidak dapat menerima peringatan yang disampaikan pakar penyakit menular Anthony Fauci mengenai bahaya pembukaan kembali aktivitas ekonomi maupun sekolah yang terlalu cepat.

Fauci, yang memimpin Institut Nasional Penyakit Menular dan Alergi, juga memperingatkan pencabutan karantina wilayah secara dini dapat menyebabkan wabah tambahan dari virus corona yang mematikan.

Trump, sebaliknya, mengatakan satu-satunya hal yang bisa diterimanya adalah masukan mengenai profesor atau guru "di atas usia tertentu" yang tidak perlu mengajar. "Saya pikir mereka harus beristirahat selama beberapa minggu," kata Trump, seperti dikutip Reuters.

Rekaman wawancara dengan jurnalis senior Bob Woodward yang dikeluarkan pada Rabu, (9/9), mengungkapkan bahwa Trump meremehkan bahaya virus corona agar masyarakat tidak panik.

Meskipun demikian, ia mengetahui bahwa virus tersebut lebih mematikan dibandingkan flu biasa sebelum COVID-19 melanda Amerika Serikat.

Saya meremehkan, karena saya tidak ingin membuat panik, ujar Trump.
 
Maria Velez dari Orlando, Florida, memeluk nisan putranya Stephen di Ohio Western Reserve National Cemetery pada Memorial Day, ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Seville, Ohio, Amerika Serikat, Senin (25/5/2020). (REUTERS/AARON JOSEFCZYK) (REUTERS/AARON JOSEFCZYK/AARON JOSEFCZYK)


Sementara itu, sejumlah negara bagian besar di Amerika Serikat mengabaikan seruan baru yang dikeluarkan pejabat kesehatan federal agar pengujian COVID-19 dikurangi pada sebagian orang yang terpapar virus corona.

Negara-negara bagian itu antara lain Arizona, California, Connecticut, Florida, Illinois, Texas, New Jersey, dan New York.

Kedelapan negara bagian tersebut turut bergabung dengan para pakar kesehatan masyarakat dalam mengkritik pemerintahan President Donald Trump mengenai penanganan virus corona.

Negara-negara bagian tersebut berencana untuk terus melakukan tes pada orang-orang tanpa gejala yang telah terpapar COVID-19.

Mereka tidak mengikuti panduan baru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) yang menyatakan bahwa tes semacam itu mungkin tidak diperlukan.

Panduan yang dianut Texas saat ini merekomendasikan pengujian untuk semua orang yang telah melakukan kontak dekat dengan orang yang dikonfirmasi mengidap virus karena langkah itu memungkinkan untuk identifikasi kasus secara dini di antara orang-orang yang berisiko lebih tinggi tertular, ujar juru bicara Departemen Layanan Kesehatan Negara Bagian Texas dalam pernyataan, seperti dikutip Reuters.

California dan New York membuat pernyataan serupa. Departemen Kesehatan Florida juga mengatakan pengujian pada orang tanpa gejala terus berlanjut sementara rekomendasi CDC yang baru sedang dievaluasi.

CDC pekan ini mengatakan, orang-orang yang terpapar COVID-19, tetapi tidak bergejala, mungkin tidak perlu diuji. Pernyataan itu mengejutkan kalangan dokter dan politisi serta memicu tuduhan bahwa pedoman itu bermotif politik.

Sementara itu, Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan, negara bagian New York tidak akan mematuhi pedoman baru tersebut. Ia juga menantang pernyataan bahwa perubahan itu tidak bermuatan politik.

"Pedoman (baru) pengujian COVID-19 merupakan perubahan 180 derajat yang sembrono, tidak berdasarkan sains dan berpotensi merusak reputasi (CDC) dalam jangka panjang," ujar Cuomo dalam pernyataan bersama gubernur New Jersey dan Connecticut, yang juga menyatakan negara bagian tidak akan mengikuti panduan CDC.

Trump Yang Lamban

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjajaran Teuku Rezasyah mengatakan lambannya penanganan COVID-19 di Amerika Serikat disebabkan oleh dua faktor, yaitu kepemimpinan Donald Trump yang sangat percaya diri dan struktur masyarakat Amerika Serikat yang sedang goyah.

Perihal Donald Trump, lanjut dia, fokus kepemimpinannya terbelah, antara pemilihan Presiden yang semakin dekat, tingginya krisis keamanan dan ketertiban masyarakat di dalam negeri, serta keyakinannya jika sistem kesehatan Amerika Serikat mampu secara otomatis menanggulangi COVID-19 ini dengan baik.

Teuku mengatakan Donald Trump mulai goyah saat Dirjen WHO mengumumkan sudah terjadinya Pandemi pada bulan Maret, sehingga Trump terlambat untuk secara sistematis menggerakkan seluruh struktur sistem kesehatan negerinya.

Padahal, sistem kesehatan Amerika Serikat termasuk yang terbaik di dunia.

 
Seorang wanita memakai masker saat berjalan melewati air mancur ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di San Diego, California, Amerika Serikat, Kamis (18/6/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Blake/WSJ/djo (ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Blake/WSJ/djo/MIKE BLAKE)


Sepanjang penanggulangan COVID-19 itu sendiri, Trump terlihat enggan menunjukkan keadaan negerinya yang sedang dalam keadaan gawat.

Namun terkesan menonjolkan kepemimpinan dirinya, dan menuduh WHO dan China sebagai pihak yang bertanggungjawab, dan karena itu harus diperiksa oleh dunia, ujar Teuku.

Trump sebenarnya dapat menggunakan banyak momentum, seperti mendatangi rumah sakit, fasilitas kesehatan, dan barak-barak kesehatan prajurit di berbagai lokasi terpencil, dalam banyak negara bagian. Tapi sayang, tidak dilakukannya.

Walaupun Trump sudah berkoordinasi dengan banyak pimpinan dunia, antara lain Presiden Joko Widido, namun korban di dalam negeri Amerika Serikat sudah terlanjur meluas cepat.

Mengenai masyarakat Amerika Serikat, Teuku mengungkapkan masyarakat AS cenderung senang beraktifitas dalam jumlah besar di lingkungan terbuka dan tertutup.

Mereka sangat percaya diri, jika COVID-19 tidak segawat yang diberitakan media massa.

Sosialisasi COVID-19 pada masyarakat ini tenggelam oleh maraknya pemberitaan soal krisis keamanan dan ketertiban masyarakat di dalam negeri, krisis dalam hubungan antar-ras akibat kesalahan prosedur aparat kepolisian, dan pelemahan ekonomi nasional yang berdampak pada menurunnya kualitas hidup mereka.

Baca juga: Trump akui tahu bahaya maut corona tapi tetap meremehkan

Baca juga: AS tidak akan bayar utang ke WHO

Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar