Produser: Platform digital tak bisa gantikan pemasukan dari bioskop

id pandemi covid-19,perfilman indonesia,platform streaming digital

Nur Iyan, kolektor film berusia 48 tahun, menyiapkan film seluloid yang akan dimainkan di 'bioskop berjalan', di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di rumahnya di Tangerang Selatan, pinggir Jakarta, Indonesia, Minggu (5/7/2020). (REUTERS/Willy Kurniawan/WSJ/djo)

Jakarta (ANTARA) - Produser Base Entertainment Shanty Harmain mengatakan pandemi COVID-19 mengatakan pemasukan dari distribusi film lewat platfrom streaming digital tidak bisa menggantikan pemasukan dari penayangan film di bioskop dalam bisnis perfilman Indonesia.

"Bioskop adalah salah satu elemen sangat penting dalam industri perfilman karena istilahnya pemasukan terbesar dari model bisnis perfilman Indonesia itu ada di distribusi melalui bioskop," kata Shanty dalam acara Podcast ANTARA tentang Produksi dan Distribusi Film saat Pandemi secara virtual, Jakarta, Jumat.

Shanty menuturkan kembali dibukanya bioskop adalah hal yang amat sangat penting untuk industri perfilman.

"Kita semua sangat mengharapkan bioskop akan kembali (dibuka), masalahnya adalah bagaimana dan kapan, ketidakpastian itu yang membuat kita banyak pusing baik pihak bioskop dan para produser," tutur Shanty.

Baca juga: Satgas COVID-19: Pembukaan bioskop di DKI Jakarta kewenangan pemda

Baca juga: Bamsoet: Jangan terburu buka operasional bioskop di tengah pandemi


Omset terbesar di bisnis perfilman berasal dari distribusi film melalui bioskop dengan kontribusi lebih dari 50 persen pemasukan, dibandingkan platfrom streaming digital dan jaringan televisi nasional.

Dia menuturkan sekarang memang ada banyak pemain platform streaming digital internasional yang masuk ke dalam pasar Indonesia seperti Netflix, Disney+Hotstar, dan Inflix. Pemain lokal juga marak seperti GoPlay, Klik Film dan Vidio.com. Jaringan distribusi film lain adalah televisi nasional.

Shanty menuturkan selama bioskop tutup karena pandemi COVID-19, pemasukan tentu berkurang. Dia mengatakan pemasukan dari platform distribusi film lain termasuk platform digital dan penayangan di televisi tidak bisa menggantikan pemasukan dari bioskop.

Shanty menuturkan platform streaming digital hanya bersifat komplementer dan tidak bisa menggantikan dalam konteks pemasukan dari distribusi film melalui bioskop.

Baca juga: Anies: Rencana operasi bioskop di tengah pandemi merujuk negara asing

Baca juga: Pemkot Tasikmalaya siap kaji protokol kesehatan bioskop sebelum dibuka

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar