Saat ini, yang harus ditopang pondasinya adalah industri pengolahan yang memang basisnya adalah kebutuhan pokok sehari-hari
Jakarta (ANTARA) - Ketua Program Magister Administrasi Publik Universitas Nasional Rusman Ghazali  menyampaikan bahwa industri makanan dan minuman bisa menjadi penolong saat ekonomi Indonesia menghadapi resesi.

"Kalau terjadi resesi, maka kondisi manufaktur pasti mengalami degradasi yang sangat besar dan yang bisa menolong adalah industri makanan dan minuman," kata Rusman pada seminar web bertajuk "Strategi Menyelamatkan Industri Manufaktur di tengah Kondisi Pandemi COVID-19", Rabu.

Data Kementerian Perindustrian menyebutkan industri makanan dan minuman berkontribusi paling besar terhadap pertumbuhan industri manufaktur nasional, yakni mencapai 21,46 persen.

Baca juga: Menperin optimistis industri makanan-minuman tumbuh positif tahun ini

Rusman menyampaikan saat ini pemerintah telah memiliki skema kebijakan dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Menurut dia, saat ini yang harus ditopang pondasinya adalah industri pengolahan yang memang basisnya adalah kebutuhan pokok sehari-hari.

Rusman menambahkan bahwa akibat pandemi COVID-19, berbagai sektor usaha mengalami perlambatan, antara lain perdagangan, konstruksi, dan pariwisata, yang dikarenakan pergerakan orang dan barang yang terhenti.

"Lebih jauh, sektor yang terpukul oleh dampak pandemi yakni industri otomotif, logam, kabel, dan peralatan listrik, semen, keramik, kaca, karet, mesin, alat berat, elektronika, tekstil, serta mebel dan kerajinan," tukasnya.

Adapun sektor yang mengalami pertumbuhan positif yakni jasa keuangan, asuransi, dan komunikasi, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial.

Baca juga: Kemenperin: Industri makanan dan minuman harus dijaga tetap positif
Baca juga: Kemenperin pacu industri makanan dan minuman terapkan teknologi 4.0


Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2020