Guru Besar UIN: Paham khilafah politik karena kurang pemahaman agama

id Khilafah,Radikalisme,Guru Besar UIN Jakarta

Guru Besar Bidang Psikologi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr H Achmad Mubarok (HO)

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Bidang Psikologi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr H Achmad Mubarok mengatakan paham khilafah politik ada karena kurangnya pemahaman ilmu agama.

Untuk mengatasi hal tersebut khususnya kepada generasi muda mahasiswa adalah dengan cara membuka diri terhadap wawasan dengan memperbanyak diskusi terbuka dan seminar-seminar serta menimba ilmu agama dengan benar, katanya dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis.

"Nah tentunya dari situ nantinya akan keliatan sendiri karena khilafah versi mereka (kelompok penyebar paham intoleransi dan radikalisme) itu sebenarnya bukan konsep Islam, melainkan konsep khilafah politik," ujarnya di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Pengasuh Ponpes: Khilafah akan bawa disintegrasi bangsa

Karena, menurut pria kelahiran Purwokerto, 15 Desember 1945 tersebut sesungguhnya konsep khilafah yang diusung oleh kelompok-kelompok tersebut bukanlah konsep khilafah yang berasal dari Al Quran.

Achmad Mubarok mengatakan konsep khilafah yang ada di Al Quran adalah khilafatullah fil ardh, yang mana ’manusia adalah wakil Allah di muka bumi yang berkewajiban untuk membumikan nilai-nilai kebenaran’.

"Nah itu khilafatullah sesungguhnya, bukan khilafah politik. Dan khilafah politik sebetulnya muncul karena adanya kekecewaan masyarakat terhadap pemerintahan yang ada," tutur mantan anggota MPR RI periode 1999-2004 tersebut.

Achmad Mubarok melanjutkan bahwa sebetulnya ideologi khilafah berasal dari kekecewaan politik di Timur Tengah yang kemudian menyebar keluar ke berbagai negara. Tapi menurutnya ideologi khilafah itu sendiri sebetulnya adalah utopia yang sulit terjadi, yang mana sesungguhnya juga tidak perlu ditanggapi serius karena tidak mungkin berdiri.

Baca juga: Peneliti: Paham Khilafah juga harus dilawan dengan gagasan

"Itu adalah utopia, mimpi. Mereka yang menyebarkan paham ini pada umumnya adalah orang yang tidak paham agama, atau orang yang tidak memiliki wawasan kebudayaan sehingga tidak bisa membedakan khalifatullah dengan khilafah politik," terang Achmad.

Untuk itu, menurut mantan Ketua Dewan Juri Keluarga Sakinah Nasional ini bahwa masyarakat perlu untuk diajak belajar dan berpikiran terbuka terkait dengan adanya ideologi khilafah tersebut.

Termasuk juga diskusi-diskusi bagi kalangan mahasiswa terkait hal ini juga harus dilakukan terbuka untuk membuka wawasan para mahasiswa tersebut.

"Jadi kalau dibicarakan terbuka justru hal ini tidak akan tumbuh, tetapi kalau dikejar-kejar itu justru akan tumbuh karena mereka merasa dizalimi," ucapnya

Baca juga: Alissa Wahid tegaskan khilafah tidak sesuai dengan Indonesia

Generasi muda khususnya para mahasiswa menurut Achmad Mubarok juga perlu untuk memperbanyak wawasan-wawasan yang bernuansa amaliyah sebagai upaya untuk membentengi diri dari pengaruh ajaran atau paham yang menyesatkan.

"Jika banyak wawasannya dan beramaliyah maka kemudian tidak akan mudah terjerumus kepada pemahaman ruang yang sempit yang dapat mengarah kepada intoleransi dan radikalisme. Ini juga sebagai upaya agar paham-paham tersebut juga tidak tumbuh di lingkungan kampus," katanya.


Pewarta : M Arief Iskandar
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar