UNFPA perkirakan 15 juta kehamilan tidak diinginkan akibat COVID-19

id Hari kontrasepsi sedunia,kehamilan tidak diinginkan,Kehamilan pandemi

UNFPA Assistant Representative Dr dr Melania Hidayat. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - United Nations Fund for Population Activities (UNFPA) atau Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan terdapat estimasi hingga 15 juta kehamilan tidak diinginkan secara global akibat pandemi COVID-19 yang melanda dunia saat ini.

"Estimasi berdasarkan skenario durasi 'lockdown' dan gangguan layanan kesehatan," kata Assistant Representative UNFPA Dr dr Melania Hidayat saat diskusi daring dengan tema "Perayaan Hari Kontrasepsi Sedunia 2020" yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Melania mengatakan jika dengan destruksi tinggi "lockdown" hingga 12 bulan maka ada 51 juta wanita tidak dapat menggunakan kontrasepsi modern dan terjadi 15 juta kehamilan tidak diinginkan.

Baca juga: UNFPA: Pastikan pemuda miliki pengetahuan kontrasepsi yang benar

Hal tersebut diperkirakan berdasarkan studi yang dilakukan oleh UNFPA bersama sejumlah lembaga di 114 negara sehingga diperoleh analisis sejauh mana pandemi berpengaruh pada kesehatan reproduksi.

Secara umum studi dilakukan dengan berbagai skenario "lockdown" yakni tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan hingga 12 bulan. Selain itu juga terdapat skenario terkait gangguan layanan kesehatan baik itu ringan, sedang ataupun tinggi.

"Sekecil apapun skenarionya memiliki dampak cukup besar sehingga hal yang diperkirakan itu harus dicegah agar tidak terjadi," ujarnya.

Baca juga: UNFPA ajak setiap pihak capai tiga tujuan transformasi

Contohnya saja dengan gangguan layanan kesehatan ringan serta durasi lockdown hanya tiga bulan, diperkirakan terdapat sekitar 13 juta wanita yang tidak dapat menggunakan alat kontrasepsi modern dan berdampak pada 325.000 kehamilan tidak diinginkan.

Padahal secara global diperkirakan 450 juta wanita di 114 negara dengan pendapatan rendah dan menengah menggunakan kontrasepsi.

Di sisi lain terdapat pula studi khusus di wilayah Asia Pasifik, bahkan dengan skenario terburuk diperkirakan terdapat 20,7 juta kehamilan yang tidak diinginkan. Sementara dengan skenario terbaik tetap bisa mencapai 11,4 juta kehamilan.

Baca juga: UNFPA: Terjadi 57 kekerasan seksual dalam masa darurat Sulawesi Tengah

Lebih jauh, ia mengatakan kehamilan tidak diinginkan itu juga dapat berimbas negatif pada meningkatnya kematian dan kesakitan ibu.

Menurutnya, dengan asumsi adanya hambatan pada persalinan oleh tenaga kesehatan, persalinan di fasilitas kesehatan dan akses terhadap layanan kontrasepsi diperkirakan 10 kematian ibu per jam di Asia Pasifik.

Sehingga terdapat estimasi kematian ibu pada 2020 sebanyak 103.000 jiwa dengan skenario terbaik dan 173.000 kematian dengan skenario terburuk.

"Itu perkirakan secara global dan regional Asia Pasifik. Khusus Indonesia saat ini UNFPA sedang melakukan hal serupa untuk permodelan situasi di Tanah Air dan hasilnya mungkin dalam beberapa waktu ke depan," kata dia.

Dengan adanya berbagai estimasi tersebut diharapkan masyarakat dapat lebih meningkatkan kesadaran bahaya COVID-19, membuat skenario pencegahan serta melakukan antisipasi sebaik mungkin.

Baca juga: KPKPST-UNFPA latih pendamping penanganan kekerasan berbasis gender

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar