Pemerintah berencana gunakan tes cepat antigen untuk deteksi COVID-19

id rapid test antigen,covid-19,satgas,wiku adisasmita

Peneliti melakukan formulasi Rapid Test CePAD Antigen di Pusat Riset Bioteknologi Molekular dan Bioinformatika Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (21/5/2020). Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Tekad Mandiri Citra dan Pakar Biomedika Indonesia menciptakan dan memproduksi Rapid Test CePAD Antigen guna mendeteksi keberadaan virus dalam penanganan COVID-19 atau penyakit infeksi lainnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/hp.

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah berencana menggunakan alat tes cepat berbasis antigen sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Pemerintah Indonesia pasti akan menyelenggarakan (tes cepat antigen). Kami sudah mendapatkan rekomdendasi dari WHO terhadap 'rapid test antigen' yang kualitasnya baik," kata Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers virtual di Kantor Presiden Jakarta, Kamis.

Tes antigen cepat yang disetujui WHO lebih cepat yaitu 15-30 menit dan lebih mudah, serta lebih murah, dan dapat digunakan untuk pemeriksaan di sekolah, universitas dan tempat kerja.

Baca juga: Kasus meningkat, Banten dan Aceh masuk prioritas penanganan COVID-19

WHO juga berencana meluncurkan 120 juta alat "rapid test" antigen itu ke negara berpendapatan menengah ke bawah. WHO menetapkan daftar penggunaan darurat tes cepat COVID-19 berbasis antigen, yang harganya 5 dollar AS (Rp 74.500) per buah.

"Sedang kami 'review' untuk selanjutnya mungkin akan digunakan dan tentunya akurasinya yang lebih tinggi dan karena ini pendeteksi antigen tentunya akan lebih baik dalam mendeteksi antibodi, untuk proses 'screening', sebelum selanjutnya dilakukan tes penegakan diagnosa dengan 'real time' PCR," tambah Wiku.

Menurut Wiku, pemerintah telah berkomunikasi dengan perwakilan WHO yang ada di Indonesia.

Baca juga: Positif COVID-19 di Indonesia bertambah 4.174, sembuh 3.540 orang

"Kami telah memohon untuk bisa dapat dipertimbangkan mendapatkan bantuan dari WHO untuk tes cepat ini agar kita bisa mendeteksi lebih cepat dari kasus atau masyarakat yang menderita COVID-19," ungkap Wiku.

Perusahaan farmasi Abbott dan SD Biosensor sudah setuju dengan Bill and Melinda Gates Foundation untuk memproduksi 120 juta unit alat tes. Kesepakatan ini akan menjangkau 133 negara, termasuk banyak negara di Amerika Latin yang terpukul karena pandemi dalam hal tingkat kematian dan penularan.

Rapid test antigen adalah tes cepat untuk mendeteksi keberadaan antigen virus SARS-CoV-2 pada sampel yang berasal dari saluran pernapasan. Antigen akan terdeteksi ketika virus aktif bereplikasi.

Baca juga: Positif COVID-19 di Indonesia bertambah 4.823, sembuh 4.343 orang

Tes cepat antigen ini paling baik dilakukan ketika orang baru saja terinfeksi karena sebelum antibodi seseorang muncul untuk melawan virus yang masuk ke tubuh, ada peran antigen untuk mempelajarinya, keberadaan antigen itulah yang dideteksi.

Seperti "rapid test" antibodi, ada kemungkinan hasil rapid test antigen tak akurat karena virus yang dipelajari antigen bisa jadi bukanlah SARS-CoV-2, melainkan virus lain seperti influenza.

Baca juga: Kasus positif COVID-19 Pasaman Barat bertambah dua orang

Sedangkan 'rapid test' antibodi adalah tes cepat COVID-19 yang dijalankan untuk mendeteksi keberadaan antibodi dalam darah. Ketika terinfeksi virus SARS-CoV-2, tubuh akan menghasilkan antibodi dalam beberapa hari atau pekan kemudian.

Dalam penelitian, respons antibodi pada sebagian besar pasien COVID-19 baru muncul pada pekan kedua setelah infeksi dan berbeda-beda pada setiap orang selain itu, ada potensi reaksi silang kemunculan antibodi akibat adanya jenis virus selain SARS-CoV-2 sehingga hasil tes bisa saja reaktif tapi bukan disebabkan oleh virus SARS-CoV-2.

Baca juga: Seorang dokter spesialis bedah anak di Medan meninggal akibat COVID-19

Pewarta : Desca Lidya Natalia
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar