Armenia siap upayakan gencatan senjata di Nagorno-Karabakh

id Armenia,Azerbaijan,Nagorno-Karabakh

Armenia siap upayakan gencatan senjata di Nagorno-Karabakh

Para warga menghadiri pertemuan di Yerevan, Armenia, Minggu (27/9/2020), yang ditujukan untuk merekrut tentara sukarela setelah otoritas Armenia menyatakan darurat militer dan mengerahkan penduduknya yang laki-laki, pascabentrokan dengan Azerbaijan menyangkut pemisahan wilayah Nagorno-Karabakh. ANTARA/Photolure via REUTERS/Melik Baghdasaryan/tm/am.

Yerevan (ANTARA) - Armenia, Jumat (2/10), mengatakan pihaknya akan bekerja sama dengan Rusia, Amerika Serikat, dan Prancis untuk memperbarui gencatan senjata di Nagorno-Karabakh.

Sementara itu, jumlah korban tewas meningkat pada hari keenam pertempuran memperebutkan daerah kantong yang memisahkan diri itu di Kaukasus Selatan.

Azerbaijan, yang memerangi pasukan etnis Armenia di Nagorno-Karabakh, belum menanggapi seruan untuk gencatan senjata yang dikeluarkan pada Kamis (1/10) oleh ketiga negara tersebut -ketua bersama dari Kelompok Minsk Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE), yang menengahi dalam krisis.

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengesampingkan pembicaraan dengan Armenia mengenai Nagorno-Karabakh pada Selasa dan sekutu Azerbaijan, Turki, mengatakan pada Kamis bahwa tiga kekuatan besar itu seharusnya tidak memiliki peran dalam menciptakan perdamaian.

"Jelas bahwa Armenia tidak tertarik untuk menyelesaikan konflik melalui negosiasi dan berusaha untuk mencaplok wilayah pendudukan," kata Kementerian Luar Negeri Azerbaijan.

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan berbicara pada Jumat melalui telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang situasi di Nagorno-Karabakh, kata pemerintah di Yerevan.

Kedua pemimpin itu sepakat bahwa setiap penggunaan pejuang asing dan teroris dalam konflik tidak dapat diterima, dan Macron menyerukan gencatan senjata segera, kata pemerintah dalam sebuah pernyataan.

Armenia dan Azerbaijan saling menuduh menggunakan tentara bayaran asing dalam operasi militer.

Pashinyan juga berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dalam pembicaraan ketiga kalinya melalui telepon dalam enam hari sejak pertempuran pecah, Putin dan Pashinyan menyatakan keprihatinan serius tentang keterlibatan kelompok bersenjata ilegal dari Timur Tengah dalam pertempuran itu.

Putin menegaskan kembali perlunya gencatan senjata.

Sumber: Reuters

Baca juga: Armenia sambut ajakan mediasi OSCE, Azerbaijan belum jawab

Baca juga: Turki bantah mengirim petempur Suriah ke Azerbaijan

Baca juga: Putin desak semua pihak untuk tahan tembakan di Nagorno-Karabakh


 

Presiden Jokowi pertemuan bilateral dengan Presiden Armenia


Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar