Bunda PAUD di Surabaya didorong tekan penyebaran COVID-19 pada anak

id Bunda PAUD,COVID-19,unair

Pelaksanaan program pemberian makanan tambahan (PMT) untuk anak PAUD di Surabaya. (FOTO ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya)

Surabaya (ANTARA) - Bunda pengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Surabaya didorong ikut berperan menekan penyebaran COVID-19 atau virus corona jenis baru terhadap anak.

Pakar Kesehatan Anak RSUD dr. Soetomo Surabaya Leny Kartina di Surabaya, Minggu, mengingatkan para Bunda PAUD agar lebih mewaspadai ancaman serta dampak penyebaran COVID-19 pada anak-anak didiknya.

"Bunda-bunda PAUD ini memiliki peran yang sangat penting untuk memberikan pemahaman pada masyarakat," ujar Leny.

Baca juga: Manggala Agni Sultra edukasi anak pencegahan COVID-19

Hal ini, kata dia, dikarenakan tingkat kematian anak penderita COVID-19 di Indonesia, persentasenya saat ini lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain. Jika di negara-negara lain persentase kematian anak-anak yang terpapar COVID-19 antara 0,1-0,2 persen, namun untuk di Indonesia angkanya bahkan mencapai hingga 1,1 persen.

"Jadi di Indonesia itu angkanya lebih tinggi. Ini yang patut diwaspadai," ujarnya.

Leny mengatakan penularan utama COVID-19 kepada anak-anak ini diketahui berasal dari keluarga dekat mereka sendiri, yaitu orang tua atau saudara yang tinggal dalam satu rumah. Ditambah lagi gejala dan klinis anak yang terinfeksi COVID-19 tidak sama persis dengan orang dewasa.

"Dari 2.143 anak yang konfirmasi positif dan dilakukan pemeriksaan dalam sebuah penelitian berskala besar menunjukkan, 90 persen di antaranya mempunyai gejala asimtomatis (tidak memberikan gejala klinis apapun), gejala ringan dan sedang," katanya.

Baca juga: Pemimpin informal berperan sadarkan warga cegah COVID-19

Untuk itu, kata dia, Bunda PAUD ini yang harus mengenali gejala pada anak-anak yang lebih bervariatif, bias gejala saluran nafas, demam ada diare. Ada juga yang memiliki gejala tidak dijumpai pada orang dewasa, yaitu gejala menyerupai penyakit Kawasaki.

Gejala penyakit Kawasaki ini menurut Leny, di antaranya kulit anak muncul bercak-bercak merah, bibir pecah-pecah, mata merah hingga kulit ujung jari yang melepuh.

"Anak balita yang positif COVID-19 juga bisa menularkan kepada orang lain melalui feses, urine, saliva. Jadi jangan lupa untuk mencuci tangan sebelum dan setelah mengganti popok bayi," katanya.

Leny mengatakan persoalan ini sudah disampaikan kepada para Bunda PAUD saat menjadi pemateri pada pendampingan PAUD di Kota Surabaya secara daring yang diselenggarakan kerja sama Unair-Unicef, Sabtu (3/10).

Kekhawatiran Leny Kartina ini juga dikuatkan dengan data yang disajikan oleh person in charge (PIC) Gerakan Peduli Ibu dan Anak Sehat Membangun Generasi Cemerlang Berbasis Keluarga (Geliat) Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Nyoman Anita Damayanti, drg., M.S.

Menurutnya, data per 15 September 2020 jumlah anak-anak usia 0-9 tahun di Jawa Timur yang positif terinveksi COVID-19 mencapai 1.412 anak. Sementara jumlah anak-anak usia 10-19 tahun yang terpapar COVID-19 mencapai 2.472 anak.

Khusus untuk anak bawah lima tahun atau balita (1-4 tahun) di Jawa Timur yang terkena COVID-19, hingga 14 Juli 2020, mencapai 170 anak. Meskipun tercatat 39 persen (67 anak) dinyatakan sembuh, namun tingkat kematian mencapai 1 persen (1 anak).

#satgascovid19

Baca juga: Presiden tekankan pencegahan penularan COVID-19 mesti diutamakan
Baca juga: Yogyakarta perketat pengawasan tempat kumpul anak muda

Pewarta : Abdul Hakim
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar