Kabupaten zona merah COVID-19 di Sulsel beralih ke zona oranye

id COVID-19, swab massal Pemkot Makassar, Prof Dr Ridwan Amiruddin

Kabupaten zona merah COVID-19 di Sulsel beralih ke zona oranye

Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Unhas Prof Ridwan Amiruddin. ANTARA/HO/Humas Pemprov Sulsel

Makassar (ANTARA) - Seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan yang sebelumnya berada di zona merah penyebaran COVID-19, kini bergeser atau beralih ke zona oranye, kata Ketua Tim Konsultan Penanganan COVID-19 Sulsel, Prof Dr Ridwan Amiruddin.

Prof Ridwan di Makassar, Senin, menyatakan beberapa kabupaten seperti Kota Makassar, Kabupaten Takalar, Maros dan Gowa kini telah keluar dari zona merah.

"Sekarang semua kabupaten/kota tidak ada lagi yang zona merah, jadi separuhnya itu oranye dan separuhnya lagi kuning. Ada satu berada di zona hijau sesuai yaitu Kabupaten Soppeng," katanya.

Pakar epidemiologi asal Universitas Hasanuddin ini menjelaskan bahwa pergeseran zonasi tersebut berdasarkan perhitungan indikator epidemiologi, yakni indikator layanan kesehatan dan indikator surveilans.

Baca juga: Gubernur sebut Sulsel sudah keluar dari zona merah COVID-19

Baca juga: Di Sulsel, ICRC diberi masukan ruangan khusus pemulasaraan COVID-19

"Jadi semakin baik indikatornya maka akan semakin baik pula keadaan sebuah wilayah terhadap penyebaran COVID-19," katanya.

Seperti yang terjadi di Sulsel, indikator kesembuhan kasus COVID-19 dinilai sudah bergerak ke angka 85,3 persen, kemudian angka kematian juga menurun di angka 2,6 persen. Sementara itu posisi Rt Sulsel di bawah angka 1 yakni 0,98 dan positive rate Sulsel di angka 8 persen.

Indikator ini sekaligus memperlihatkan bahwa jumlah sampel yang diperiksa per hari sebanyak 1600 lebih dengan jumlah yang terperiksa per pekan sesuai standar WHO, 1/1000/pekan.

Meski begitu, Prof Ridwan mengatakan potensi penularan di masyarakat masih tinggi yang berarti telah terjadi transmisi lokal di hampir semua wilayah kecamatan Kota Makassar.

Ditekankannya, agar Sulsel terus berupaya menurunkan positive rate di bawah 5 persen, karena itu mengindikasikan bisa terjadi penularan kapan saja yakni potensi pergerakan zonasi, dari zona merah ke oranye atau sedang.

"Jadi disiplin protokol kesehatan harus tetap menjadi poin-poin pentingnya," kata dia.

Oleh karena itu, program usapan (swab) massal yang digelar Pemkot Makassar dianggap sangat membantu dan harus tetap dilanjutkan, kemudian diprioritaskan pada semua wilayah-wilayah episentrum.

"Semakin cepat usapan massal digelar, maka itu akan menjadi langkah untuk mempercepat pengendalian COVID-19 di wilayah tersebut. Jadi rekomendasi usapan massal memang tetap berjalan," ujarnya.*

Baca juga: Terpapar COVID-19, Dua bapaslon di Sulsel belum ditetapkan KPU

Baca juga: Pasien terinfeksi COVID-19 di Sulsel bertambah 178 kasus


Pewarta : Nur Suhra Wardyah
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar