Sekolah lapang iklim bantu petani bercocok tanam tepat waktu

id bmkg, sekolah lapang iklim, cacok tanam

Sekolah lapang iklim bantu petani bercocok tanam tepat waktu

Ilustrasi - Peserta Sekolah Lapang Iklim (SLI) dari Kelompok Tani Mekar Jaya Lestari Kelurahan Loktabat Utara Kota Banjarbaru tengah diberikan pengetahuan tentang alat ukur cuaca dan iklim di Taman Alat Stasiun Klimatologi Banjarbaru. ANTARA/Yose Rizal

Temanggung (ANTARA) - Pelaksanaan sekolah lapang iklim yang diselenggarakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika membantu petani bercocok tanam dengan baik dan tepat waktu.

"Melalui SLI ini dapat menambah ilmu pengetahuan kami bidang pertanian yang dulunya dengan ilmu 'titen', sekarang dibantu teknologi sehingga bisa bercocok tanam tepat waktu," kata Robin, peserta SLI  pada penutupan Sekolah Lapang Iklim Operasional di Balai Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung, Kamis.

Ada dua faktor keberhasilan para petani di lingkungan Legoksari atau Kecamatan Tlogomulyo, yakni tanah dan faktor cuaca atau iklim.

"Apalagi pada pertanian tembakau dan kopi iklim sangat menentukan kualitas dari hasil panen tembakau tersebut," katanya.

Robin menuturkan faktor tanah alhamdulillah di wilayah Legoksari dan Kecamatan Tlogomulyo dianugerahi tanah yang subur sehingga mendapatkan hasil panen baik di musim kemarau maupun hujan.
Baca juga: SLI III Temanggung hasilkan padi 7,7 ton/hektare
Baca juga: Sekolah Lapang Iklim jangkau sekitar 9.000 peserta di 33 provinsi

Kemudian faktor iklim atau cuaca, katanya sedikit banyak setelah adanya SLI di Legoksari ini sangat membantu para petani sehingga pada saat panen tembakau tahun ini petani sempat khawatir adanya hujan di bulan Agustus dan September lalu.

"Namun, dengan adanya informasi yang diberikan oleh tim dari BMKG menginformnasikan perkiraan cuaca yang akan datang sehingga kami mempunyai strategi bagaiman cara mengolah tanah, mengolah tanaman sehingga tetap mendapatkan hasil komoditas tembakau dengan kualitas baik," katanya.

Pada pertengahan September lalu para petani sudah khawatir tidak akan mempunyai tembakau srintil sebagai hasil primadona warga Legoksari.

"Alhamdulillah, strategi para petani yang dikembangkan dengan pengaplikasian dari BMKG bagaimana cara mengolah tanah, bagaimana cara petik, sampai penjemuran hingga pengemasan dengan suhu udara yang tepat, cuaca yang bagus, tahun ini tembakau kita juga berkualitas bagus, seperti tahun kemarin kita mendapat grade H dan I, tahun ini bisa sampai grade G," katanya.

Menurut dia dengan memanfaatkan ilmu perkiraan cuaca iklim dari BMKG sehingga petani mempunyai strategi-strategi sehingga panen bisa tepat dan memiliki hasil panen yang berkualitas bagus.
Baca juga: Sekolah lapang iklim BMKG jadi contoh literasi iklim Asia-Pasifik
Baca juga: BMKG: Banyak negara mengadopsi program sekolah lapang iklim


Bupati Temanggung M. Al Khadziq mengatakan SLI penting bagi petani, Pemkab Temanggung mengucapkan terima kasih kepada BMKG dan kepada anggota komisi V DPR RI, Sudjadi atas inisiatifnya menyelenggarakan SLI di Kabupaten Temanggung yang sangat bermanfaat bagi petani di seluruh Kabupaten Temanggung.

"Saya berharap para petani peserta SLI nantinya bisa betul-betul menerapkan ilmu yang didapat selama mengikuti SLI diterapkan di tempat masing-masing dan ditularkan kepada masyarakat di lingkungannya semoga hasilnya benar-benar bermanfaat untuk masyarakat Kabupaten Temanggung.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan SLI merupakan program prioritas nasional yang dilaksanakan oleh BMKG dalam rangka memberi pengetahuan kepada para petani agar lebih paham cuaca dan iklim untuk menentukan startegi tanam.

Menurut dia di Desa Legoksari ini merupakan SLI khusus, yang awalnya untuk komoditas tanaman bawang merah pada Juni lalu panen, kemudian dilanjutkan tanaman tembakau dan ada tumpangsari dengan tanaman kopi.

Ia menyampaikan cara memilih tanaman menyesuaikan kebutuhan lokal dengan memperhatikan cuaca dan iklim sehingga penanaman bisa dilakukan secara lebih aman.
Baca juga: Pemahaman agroklimat tingkatkan produksi padi 10-20 persen

Pewarta : Heru Suyitno
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar