IPC sediakan fasilitas "shore to ship" di Pelabuhan Tanjung Priok

id Pelabuhan tanjung priok, shore to ship, pelindo II, IPC, green port

Area pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC. BUMN itu menyiapkan layanan "shore to ship" (STS) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Dengan STS, kapal yang bersandar di pelabuhan bisa mengganti penggunaan BBM dengan memanfaatkan energi listrik yang disediakan di dermaga. ANTARA/HO-IPC

Jakarta (ANTARA) - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC menyiapkan layanan shore to ship (STS) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, untuk mewujudkan pelabuhan laut, yang ramah lingkungan (green port).

Dengan adanya fasilitas STS, kapal yang bersandar di pelabuhan bisa mengganti penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan memanfaatkan energi listrik yang disediakan di dermaga.

"Kami mengajak para pemilik kapal (shipping owner) terlibat mewujudkan pelabuhan ramah lingkungan, dengan memanfaatkan tenaga listrik dari darat untuk kebutuhan listrik kapal saat bersandar. Konversi dari BBM ke energi listrik selama kapal berlabuh akan mengurangi emisi gas buang dari mesin kapal," kata Wakil Direktur Utama IPC Hambra dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Secara bertahap, BUMN pelabuhan itu mengonversi berbagai peralatan yang semula menggunakan BBM menjadi mesin bertenaga listrik, seperti container crane (CC) dan gantry luffing crane (GLC).

Upaya tersebut akan menghemat biaya operasional terkait penggunaan BBM dan menekan biaya pemeliharaan mesin.

Hambra menjelaskan pada tahap awal IPC bersama anak perusahaannya, PT Energi Pelabuhan Indonesia (EPI), mengembangkan fasilitas STS di Dermaga Petikemas Domestik, Pelabuhan Tanjung Priok.

Secara bertahap, fasilitas STS akan dipasang di seluruh pelabuhan yang dikelola IPC. Fasilitas tersebut didesain untuk menggantikan sumber energi kapal yang sebelumnya menggunakan BBM menjadi sumber energi listrik.

Kelebihan fasilitas yang disiapkan saat ini adalah multi frekuensi (50 Hz dan 60 Hz) dan multi tegangan (380 V, 400 V, 440 V, 450 V, dan 460 V).

Fasilitas itu juga dapat menjamin keamanan jaringan dan peralatan listrik di dalam kapal dengan menggunakan trafo isolasi.

Fasilitas STS dilengkapi dengan mobile converter yang dapat mengikuti lokasi sandar kapal. Desain itu dipilih karena menyesuaikan dengan kebutuhan kelistrikan di dalam kapal yang memiliki keragaman frekuensi listrik.

Standar frekuensi listrik di Indonesia adalah 50 Hz dan tegangan yang disalurkan secara umum 220 V/380 V. Untuk mendukung pemakaiannya, IPC menyiapkan dua unit konverter frekuensi, sehingga dapat melayani dua kapal sandar secara bersamaan.

Baca juga: IPC akuisisi 49 persen saham Multimedia Nusantara
Baca juga: IPC raih tiga penghargaan BUMN Marketeers Awards 2020
Baca juga: Hingga Juli, arus peti kemas di Priok masih terdampak pandemi

Pewarta : Ade Irma Junida
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar