Sri Mulyani: Revisi proyeksi IMF dan OECD tunjukkan ada pemulihan

id Pertumbuhan ekonomi,Resesi,Kontraksi

Sri Mulyani: Revisi proyeksi IMF dan OECD tunjukkan ada pemulihan

Tangkapan layar - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika menjadi salah satu pembicara dalam Konferensi Global Climate Fund 2020 Investasi Sektor Swasta untuk Iklim secara virtual di Jakarta, Rabu (14/10/2020). ANTARA/Dewa Wiguna/am.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan revisi proyeksi ekonomi global untuk tahun ini oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dari minus 5,2 persen menjadi minus 4,4 persen, menunjukkan sudah mulai terjadi adanya pemulihan.

“Ini artinya menggambarkan di beberapa daerah terutama di negara advance terjadi pemulihan yang lebih cepat terutama pada kuartal ketiganya,” katanya dalam konferensi pers APBN KiTa secara daring di Jakarta, Senin.

Tak hanya IMF, Sri Mulyani menuturkan revisi proyeksi ekonomi global untuk 2020 juga dilakukan oleh OECD yakni dari minus 7,6 persen hingga 6 persen pada Juni lalu menjadi minus 4,5 persen pada September.

Ia mengatakan outlook global untuk 2020 lebih baik karena pemulihan ekonomi yang terjadi di beberapa wilayah lebih cepat dibandingkan dengan estimasi awal.

Meski demikian, menurutnya risiko utama yang dapat mempengaruhi outlook tersebut adalah eskalasi COVID-19 dan ketersediaan vaksin sehingga penguatan kerja sama multilateral menjadi langkah tepat untuk mempercepat pemulihan.

“Dari semua outlook untuk tahun depan ini, diperkirakan adalah mulai adanya ketersediaan vaksin,” ujarnya.

Oleh sebab itu, hingga saat ini masing-masing negara masih terus melakukan konsolidasi baik dari fiskal maupun moneter dalam mengelola dan menahan perekonomian yang mengalami kontraksi cukup dalam.

Hal itu dilakukan karena COVID-19 telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi dan defisit di berbagai negara tertekan sangat berat sekalipun kepada negara dengan kapasitas fiskal yang baik.

“Kalau kita lihat di negara-negara Eropa bahkan yang sudah melakukan all out dari policy mereka, pertumbuhan ekonominya tetap mengalami kontraksi yang luar biasa dalam,” ujarnya.

Ia menyebutkan untuk Spanyol kuartal II terkontraksi 22,1 persen dan kuartal III diperkirakan minus 12,3 persen serta Inggris kuartal II terkontraksi 21,7 persen dan kuartal III diperkirakan minus 10,7 persen karena mengalami pukulan dari brexit yang tidak pasti sekaligus pandemi COVID-19.

Kemudian Perancis kuartal II minus 19 persen dan kuartal III akan minus 9,5 persen, Meksiko kuartal II minus 18,9 persen dan kuartal III diperkirakan masih minus 11,5 persen, serta Italia minus 17,3 persen pada kuartal II dan kuartal III minus 9,7 persen.

Untuk India mengalami kontraksi yang termasuk paling dahsyat yaitu minus 23,9 persen pada kuartal II, sedangkan kuartal III diperkirakan juga masih mengalami minus 6,6 persen.

“Bahkan IMF melakukan revisi untuk ekonomi India ini tahun 2020 adalah kontraksi keseluruhannya di atas 10 persen. Luar biasa dalam,” tegasnya.

Malaysia pada kuartal II minus 17,1 persen dan kuartal III diprediksi minus 4,5 persen, Filipina minus 16,5 persen pada kuartal II dan kuartal III akan mengalami negatif 6,3 persen, Singapura kuartal II minus 13,2 persen dan kuartal III akan terkontraksi 6 persen.

Sementara Thailand yang pada kuartal II mengalami minus 12,2 persen, untuk kuartal ketiganya diperkirakan akan mengalami kontraksi di sekitar 9,3 persen karena adanya gejolak politik sehingga kuartal keempatnya akan sulit untuk bangkit.

“Semua negara across the board baik di barat, timur, utara, selatan, maju, emerging maupun developing country semuanya mengalami tekanan yang luar biasa,” tegasnya.

Baca juga: Menkeu: Pemulihan ekonomi tidak hanya mengandalkan fiskal dan moneter
Baca juga: Ekonom prediksi ekonomi RI pulih penuh pada kuartal IV 2021
Baca juga: Sri Mulyani: Ketersediaan vaksin dukung pemulihan ekonomi

Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar