Satgas: Gotong royong cara hilangkan stigma negatif penyintas COVID-19

id satgascovid19,covid19,ingatpesanibu,stigma penyintas

Satgas: Gotong royong cara hilangkan stigma negatif penyintas COVID-19

Tim Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19 Urip Purwono menjelaskan soal gotong royong sebagai cermin sila ke-5 dari Pancasila dapat menjadi cara paling ampuh menghilangkan stigma negatif terhadap penyintas COVID-19 di tengah masyarakat dalam talkshow Satgas COVID-19 di Jakarta, Selasa (20/10/2020). ANTARA/Virna P Setyorini

Jakarta (ANTARA) - Gotong royong sebagai cermin sila ke-5 dari Pancasila dapat menjadi cara paling ampuh menghilangkan stigma negatif terhadap penyintas COVID-19 di tengah masyarakat, kata Tim Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19 Urip Purwono.

"Kalau di Indonesia ya gotong-royong, lalu juga komitmen mengatasi pandemi bersama, jurnalisme yang bertanggung jawab, meluruskan mitos yang tidak benar, meredakan rumor tidak benar yang beredar di masyarakat, dan mengoreksi penggunaan yang tidak benar," kata Urip membahas cara menghilangkan stigma negatif penyintas COVID-19 di tengah masyarakat dalam Talkshow Penguatan Sistem Sosial Penanganan Penyintas COVID-19 yang digelar Satgas COVID-19 diakses di Jakarta, Selasa.

Stigma dalam sejarah kesehatan selalu muncul mana kala ada epidemi dan pandemi, seperti Ebola dan MERS yang juga menimbulkan stigma di tengah masyarakat. Secara psikologis, itu merupakan stereotipe pandangan negatif yang tidak mendasar dari seseorang atau sekelompok orang, kata dia.

"Khusus COVID-19 dari enam dimensi stigma maka kelihatannya yang muncul itu yang bahaya. COVID-19 ini dianggap bahaya. Walaupun pasien sembuh tapi di masyarakat tetap melekat dan dianggap bahaya, sehingga itu memunculkan stigma dan pandangan negatif membuat mereka yang sembuh dijauhi," ujar dia.

Baca juga: Bangkit menghapus stigma "alumni" COVID-19

Stigma tersebut, kata Urip, berbahaya karena secara psikologis ada kecenderungan masyarakat yang terinfeksi SARS-CoV-2 justru menyembunyikannya padahal seharusnya harus segera diobati. Ada dari mereka yang justru mengasingkan diri dan malah menambah risiko jika gejalanya berat.

Sebaliknya, mereka yang tanpa gejala menyembunyikan informasi bahwa mereka telah terinfeksi namun tetap beraktivitas seperti biasa bertemu orang lain, maka tentu membahayakan yang lainnya.

Ketua Jaringan Rehabilitasi Psikososial Indonesia (JRPI) Irmansyah mengatakan yang dikhawatirkan dari stigma itu adalah perilaku lingkungan yang kemudian justru menghambat proses penyembuhan seseorang yang terinfeksi virus corona baru. Stigma perlu disingkirkan, karena bisa menghambat proses 3T yakni testing, tracing, dan treatment.

Baca juga: Penyintas COVID-19 sempat hadapi stigma masyarakat

Menurut dia, informasi yang akurat terkait penanganan COVID-19 perlu terus dilakukan untuk mengedukasi masyarakat sehingga mau menghilangkan stigma. Media resmi harus dapat menjadi sumber informasi yang benar.

Mereka yang terinfeksi COVID-19 perlu pula dilihat kondisi mentalnya bukan hanya deman, batuk dan gejala lainnya yang perlu diperhatikan. Kecemasan dapat muncul karena pasien memiliki kekhawatiran dirinya dalam kondisi fatal, ujar dia.

"Yang seperti ini butuh dukungan dan perhatian. Kalau dijauhi masyarakat ya semakin berat kondisi mentalnya. Maka dukungan lingkungan paling utama, beberapa trik yang sudah dilakukan adalah mengirim makanan untuk tetangga yang sedang lakukan isolasi mandiri di rumah, bisa juga mengirimkan ucapan yang positif yang menunjukkan perhatian," katanya.

Karena, menurut dia, memang kunci keberhasilan menghadapi pandemi seperti saat ini dari segi psikologis dengan kebersamaan. Ketahanan dari masyarakat itu bisa dari bentuk solidaritas tinggi, sehingga jika ada yang sakit berarti tanggung jawab semua untuk menyembuhkannya.

Baca juga: Edukasi hilangkan stigma-diskriminasi terhadap HIV/AIDS

#satgascovid19 #ingatpesanibupakaimasker


Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar