ASEAN bahas peningkatan upaya pengelolaan kawasan lindung

id ASEAN,KLHK,biodiversity,keanekaragaman hayati

Pertemuan virtual Komite ASEAN Heritage Park (AHP) ke-7 membahas peningkatan upaya pengelolaan kawasan lindung diakses dari Jakarta, Rabu (21/10/2020). (ANTARA/HO-KLHK)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menjadi tuan rumah pertemuan virtual Komite ASEAN Heritage Park (AHP) ke-7 yang membahas peningkatan upaya pengelolaan kawasan lindung guna mencegah kemungkinan pandemi di masa depan.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK Indra Exploitasia dalam kerangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu, mengatakan pentingnya pengakuan terhadap pengelolaan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan sebagai solusi pengendalian pandemi di masa depan maupun untuk pemulihan kawasan setelah wabah raya COVID-19.

Hal tersebut dapat dilakukan antara lain dengan pengelolaan kesehatan manusia yang terintegrasi dengan pengelolaan lingkungan dan kehidupan liar.

“Integrasi tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan One Health, mengintegrasikan kesehatan lingkungan, kesehatan satwa liar dengan kesehatan manusia. Untuk itu, perlu pemahaman yang komprehensif, mengenai jasa lingkungan dan pengelolaan manfaat keanekaragaman hayati bagi masyarakat dan hubungannya dengan pengetahuan tradisional," kata Indra.

Baca juga: Taman Nasional Bantimurung ditetapkan jadi ASEAN Heritage Park

Kerja sama masyarakat, menurut dia, dilakukan dalam konsep sinergi antara kesehatan manusia, kesehatan lingkungan termasuk satwa liar yang menjadi kunci dari penanggulangan pandemi dan mencegah terjadinya wabah raya lain di masa yang akan datang. AHP merupakan salah satu jalan bagi negara-negara di ASEAN dalam mencapai visi “Living in Harmony with Nature” yang telah dicanangkan secara global di Nagoya tahun 2010.

ASEAN Heritage Park merupakan kawasan yang disepakati oleh sepuluh negara anggota ASEAN karena keunikan ekosistem serta spesies yang mewakili kekayaan keanekaragaman hayati ASEAN sebagai wujud nyata kerjasama ASEAN. Saat ini, jumlah AHP 49 dan sebanyak tujuh AHP berada di Indonesia, yaitu Taman Nasional (TN) Gunung Leuser (1984), TN Kerinci Seblat (1984), TN Lorentz (1984), TN Way Kambas (2015), TN Kepulauan Seribu (2017), TN Wakatobi (2017), dan TN Bantimurung Bulusaraung (2018).

Untuk memantau dan menilai kemajuan dalam mengelola AHP dibentuk ASEAN Heritage Park Committee yang beranggotakan wakil-wakil dari negara-negara anggota ASEAN (AMS) yang berkompeten. Mandat dan peran komite, juga termasuk memantau target-target kegiatan dan pelaksanaan, termasuk dalam hubungannya dengan mitra terkait di region ASEAN.

Baca juga: 10 dubes akan hadiri "Asean Heritage Park"

Sejumlah komitmen penting dibahas dalam pertemuan Komite AHP kali ini yang dipimpin Kepala Sub Direktorat Penerapan Konvensi terkait Biodiversity dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK Nining Ngudi Purnamaningtyas, antara lain adalah nominasi AHP dari AMS, review AHP Regional Action Plan 2016-2020 dan informasi mengenai konsep action plan periode 2021-2024, termasuk beberapa potensial pendanaan program dalam pelaksanaannya.

Peserta pertemuan adalah AHP Committee Members dari 9 negara, yaitu Indonesia, Brunei Darussalam, Kamboja, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Thailand, Vietnam dan Filipina serta diikuti ASEAN Center for Biodiversity (ACB), perwakilan dari ASEAN Secretariat, dan mitra wicara (EU, JAIF, KfW, GIZ) dan beberapa observer dari Taman Nasional. Indonesia menyatakan kesediaan menjadi tuan rumah konferensi AHP ASEAN pada tahun 2022. Pertemuan Komite AHP selanjutnya akan dilaksanakan di Myanmar.

Delegasi RI dipimpin oleh Kepala Balai TN Kepulauan Seribu Baldiah dengan anggota delegasi yaitu perwakilan Kementerian Luar Negeri, LIPI, Direktorat lingkup Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Biro Kerjasama Luar Negeri KLHK, Setbadan BLI KLHK, dan tujuh Kepala Taman Nasional yang telah ditetapkan sebagai AHP.

Baca juga: TN Way Kambas jadi kawasan Taman Warisan ASEAN


Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar