KKP hasilkan bibit unggul komoditas rumput laut

id rumput laut,kkp

Pekerja memanen rumput laut jenis Glacilaria Sp di areal tambak desa Brondong, Indramayu, Jawa Barat, Minggu (13/9/2020). Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan produksi rumput nasional laut tahun ini sebesar 10,99 juta ton. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/aww.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Loka Riset Budidaya Rumput Laut (LRBRL) Gorontalo menghasilkan bibit unggul komoditas rumput laut yang didistribusikan antara lain kepada masyarakat pembudi daya di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.

"Tahun 2020, LRBRL Pusat Riset Perikanan telah menghasilkan strain unggul rumput laut yang berguna bagi perbaikan produksi serta kualitas untuk budi dayanya. Bibit rumput laut tersebut telah didistribusikan kepada pembudi daya rumput laut," kata Kepala Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan KKP Sjarief Widjaja dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Baca juga: KKP latih warga buat mi dari rumput laut untuk cetak wirausahawan baru

Ia mengemukakan riset itu dilaksanakan pada sentra budi daya rumput laut di Perairan Desa Kambunong, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.

Sjarief menyambut baik upaya-upaya yang telah dilakukan LRBRL bagi pengembangan riset rumput laut yang menghasilkan strain-strain unggul dan mendukung pengembangan budi daya rumput laut dengan mendistribusikannya kepada masyarakat.

Kegiatan ini dilatarbelakangi antara lain oleh terbatasnya ketersediaan bibit unggul rumput laut, yang menjadi salah satu kendala dalam budi daya rumput laut saat ini.

Untuk itu, ujar dia, perlu dilakukan pengelolaan kawasan kebun bibit rumput laut, dengan penerapan metode seleksi varietas guna menghasilkan bibit rumput laut unggul sebagai upaya dalam penyediaan stok dan perbaikan kualitas bibit serta perbaikan produksi hasil budi daya di Indonesia.

"Keunggulan dari teknologi ini adalah mampu meningkatkan produksi hingga 27,99 persen dibandingkan dengan menggunakan bibit nonseleksi varietas dalam suatu usaha budi daya. Bibit hasil seleksi varietas hasil riset pada tahun ini bisa mencapai 10 kali lipat dari bobot tanam awal yaitu 50 gram per rumpunnya," paparnya.

Kepala BRSDM menuturkan teknologi ini praktis dan mudah diadopsi oleh pembudi daya langsung di lapangan, sehingga penerapan metodenya tidak membutuhkan spesifikasi sarana prasarana dan SDM khusus sehingga input biaya sangat murah dibanding metode lainnya.

Sebelumnya, KKP mendorong pengembangan berbagai komoditas sektor kelautan dan perikanan agar dapat menjadi pangan alternatif, seperti mie yang bisa dibuat dari bahan baku rumput laut.

"Sektor kelautan dan perikanan masih menyimpan banyak potensi yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi pangan alternatif," kata Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Artati Widiarti.

Menurut dia, pihaknya membuka kesempatan bagi masyarakat atau pelaku usaha lain untuk menerapkan atau mengembangkan inovasi para perekayasa.

Artati memastikan tim PDSPKP siap mendampingi pelaku usaha, khususnya UMKM untuk ikut berinovasi. "Total inovasi balai kita ada sekitar 291, kita terbuka bagi masyarakat yang ingin menerapkan," ucapnya.

Artati berharap dengan semakin banyak hasil inovasi yang diterapkan, bisa mendukung sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Salah satu peserta program Inkubator Bisnis Inovasi Produk Kelautan dan Perikanan (Inbis Invapro KP) dari Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP) Usup Supriatna, berhasil membuat produk mi kristal dari rumput laut.

Pada awal 2020, produk mie kristal rumput laut buatan Usup mulai masuk ke sejumlah pameran. Pemasaran produk tersebut semakin luas setelah diminati oleh klinik kesehatan untuk ditawarkan ke sejumlah pelaku diet serta adanya kerjasama dengan agen di Majalengka, Cianjur hingga Medan.

Baca juga: KKP kembangkan kemasan dari rumput laut guna kurangi sampah plastik
Baca juga: Untuk pertama kali, rumput laut Kaltim tembus pasar Korea Selatan

Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar