Pakar: Gaya pengasuhan otoritatif paling ideal selama pandemi

id Pengasuhan Anak,IPB University,Dwi Hastuti,Pandemi COVID-19

Pakar: Gaya pengasuhan otoritatif paling ideal selama pandemi

Ilustrasi - Orang tua berperan mendampingi anak mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) melalui siaran radio dari gurunya di Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (2/9/2020). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/hp.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Divisi Perkembangan Anak Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University Dwi Hastuti mengatakan gaya pengasuhan anak otoritatif yang umumnya dipraktikkan di Indonesia merupakan yang paling ideal selama pandemi COVID-19.

"Gaya tersebut paling ideal karena menyeimbangkan antara kasih sayang, ekspresi emosi positif orang tua dengan tuntutan disiplin dari orang," kata Dwi melalui siaran pers dari IPB University yang diterima di Jakarta, Selasa.

Dwi mengatakan pengasuhan otoritatif sebaiknya dipraktikkan saat anak usia balita, usia sekolah, hingga remaja. Orang tua harus konsisten memberikan kasih sayang, perhatian, penjelasan, komunikasi positif, dan tuntutan peraturan yang jelas pada anak.

Baca juga: Forum Anak ASEAN: Lingkungan keluarga dukung kesehatan mental anak

Terkait dengan peraturan yang diterapkan pada anak, akan lebih efektif bila telah disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga, tidak hanya sepihak dari orang tua saja.

"Pada masa-masa sulit semasa pandemi, orang tua harus sangat sensitif karena studi menunjukkan anak juga mengalami stres, sedih, takut, dan tidak bahagia," tuturnya.

Dwi mengatakan gaya pengasuhan otoritatif dapat berubah bila terjadi perubahan struktur keluarga, misalnya menjadi orang tua tunggal, kemiskinan atau kehilangan pekerjaan dan pendapatan, daya dukung lingkungan yang kurang seperti ketiadaan pengasuh pengganti, pasangan yang sibuk, atau bekerja di tempat yang jauh.

Baca juga: Psikolog klinis: Orang tua berperan penting dalam pengasuhan anak

Pada beberapa kondisi terjadi haya pengasuhan yang permisif, yaitu tidak ada tuntutan pendisiplinan dari orang tua tetapi semua kebutuhan anak terpenuhi. Yang paling buruk adalah ketika orang tua abai terhadap anak, membiarkan anak tanpa aturan, miskin kasih sayang, bahkan memberikan kekerasan verbal maupun fisik kepada anak.

"Penting bagi calon orang tua agar agar mampu mempersiapkan rumah tangga baik dari aspek ekonomi hingga matang secara emosi dan rohani sehingga tidak membuat anak hidup pada situasi yang negatif atau menjadi bibit permasalahan psikis pada anak di kemudian hari," katanya.

Menurut Dwi, lingkungan keluarga yang kondusif, penuh kehangatan, rasa saling menghormati, dan saling percaya antara pasangan suami istri juga merupakan kunci kebahagiaan keluarga yang dibutuhkan anak.

Dwi mengatakan gaya pengasuhan anak merupakan kunci kepribadian anak. Pada masa pandemi, orang tua perlu memberikan dorongan semangat, perhatian, dan kasih sayang agar kesulitan yang dihadapi dapat dilewati bersama. 

Baca juga: Pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab ibu
Baca juga: Pakar: Ayah berperan besar dalam pengasuhan anak

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar