Pengamat: Pandemi momentum kaji kebijakan industri penerbangan

id Penerbangan,COVID-19,Pandemi

Pengamat: Pandemi momentum kaji kebijakan industri penerbangan

Ilustrasi - Maskapai penerbangan dalam negeri. ANTARA/Dok ANTARA Jatim.

Jakarta (ANTARA) - Pengamat penerbangan Ziva Narendra Arifin menilai bahwa pandemi COVID-19 dapat dijadikan momentum bagi pemangku kepentingan untuk mengkaji kembali sejumlah kebijakan agar ekosistem industri penerbangan dapat tumbuh berkelanjutan.

"Pandemi ini harus dijadikan momentum, baik dari sisi pemangku kepentingan dan pemerintah untuk mengkaji kembali apa saja yang bisa dibenahi agar industri penerbangan berkembang berkelanjutan," ujar Ziva Narendra Arifin menanggapi Hari Penerbangan Nasional di tengah Pandemi, di Jakarta, Selasa.

Di tengah pandemi COVID-19, lanjut dia, dibutuhkan suatu usaha bersama sehingga industri ini mengalami perubahan yang lebih baik dari berbagai sisi.

"Kita lihat di infrastruktur bandara, di daerah masih banyak yang perlu dibenahi. Dari sisi regulasi dan hukum, saat ini momentum untuk instropeksi," ucapnya.

Ziva memprediksi memprediksi pemulihan bisnis penerbangan baru akan terjadi pada dua tahun mendatang atau pada 2022.

"Kita masih dalam mode bertahan saat ini, paling tidak sampai dua tahun ke depan hingga vaksin COVID-19 bisa terbukti, diadministrasikan dan dipatenkan," ucapnya.

Maka itu, lanjut dia, pelaku industri harus dapat lebih kreatif mengatur strategi agar bisnis penerbangan tetap berjalan dan dapat bertahan hingga pandemi usai.

"Kiat teman-teman di maskapai dalam beberapa bulan terakhir mereka mengkonversi penerbangan dari membawa penumpang menjadi kargo, kemudian izin penerbangan berjadwal mungkin bisa konversi atau menambah perizinan komersial tidak berjadwal sehingga mereka bisa melakukan penerbangan-penerbangan yang sifatnya tidak reguler, baik sifatnya charter membawa logistik atau lainnya," paparnya.

Dengan strategi yang lebih kreatif, menurut dia, setidaknya dapat menjaga aset perusahaan tidak hilang. Setelah pandemi berakhir, perusahaan dapat beraktivitas dengan cepat.

"Selain bisa bertahan, maskapai harus dapat menjaga aset terbesarnya. Aset terbesar maskapai nomor satu itu adalah SDM, yang kedua baru pesawatnya," ucapnya.

Baca juga: INACA optimistis industri penerbangan akan pulih kembali
Baca juga: Kemenhub dorong pemulihan ekonomi sektor transportasi

 

Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar