UNICEF: Kuatkan pemahaman warga tentang penularan COVID-19

id Perubahan perilaku,perilaku 3M,pakai masker,jaga jarak,pemahaman COVID-19

UNICEF: Kuatkan pemahaman warga tentang penularan COVID-19

UNICEF Communications Development Specialist Rizky Ika Syafitri. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Konsultan UNICEF Risang Rimbatmaja mengatakan pemahaman masyarakat tentang penularan COVID-19 perlu lebih dikuatkan agar mereka mengerti langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk memutus mata rantai virus tersebut.

"Ini penting dipahami warga, fondasi pemahaman seperti itu supaya tidak termakan hoaks, tidak mudah menstigma orang dan lain sebagainya," kata dia saat diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Rabu.

Logikanya, ujar dia, jika setiap orang tau cara penularan virus tersebut maka mereka juga mengetahui langkah apa yang mesti dilakukan agar tidak tertular.

Sebab, hampir delapan bulan pandemi COVID-19 terjadi di Tanah Air, masih banyak masyarakat yang tidak memiliki pemahaman tentang virus itu sendiri terutama cara penularan sehingga menimbulkan persepsi yang keliru.

Ia meyakini jika pemahaman itu telah dimiliki masyarakat, maka tidak akan ada lagi kasus pasien COVID-19 yang dikucilkan di lingkungannya atau warga yang termakan informasi-informasi keliru.

Baca juga: Gandeng UNICEF, RI siapkan pengadaan dan distribusi vaksin COVID-19

Baca juga: UNICEF akan pimpin upaya pengadaan, distribusi vaksin COVID-19


Senada dengan itu, UNICEF Communications Development Specialist Rizky Ika Syafitri mengatakan berdasarkan survei yang dilakukan lembaga tersebut bekerja sama dengan Nielsen, mengungkapkan bahwa 85 persen masyarakat menjadikan media televisi sebagai rujukan untuk referensi COVID-19.

"Ternyata media televisi masih menjadi salah satu saluran yang paling kuat untuk dimanfaatkan," katanya.

Secara umum, ia mengatakan saat ini memang masih banyak masyarakat yang tidak konsisten dalam menerapkan perilaku tiga 3M yakni mencuci tangan pakai sabun, memakai masker dan menjaga jarak.

Terkait hal itu, dari aspek komunikasi yang dapat dilakukan ialah merumuskan pesan yang tepat kepada audiens yang tepat pula sehingga tujuan perubahan perilaku dapat tercapai.

Sebagai contoh, berdasarkan riset, pemikiran utama dari masyarakat tentang COVID-19 saat ini ialah mengerikan, mematikan, menularkan dan sebagainya. Oleh karena itu, di sinilah peran agen perubahan untuk mengolah informasi tersebut menjadi positif.

"Kalau mengerikan atau mematikan, ayo kita sama-sama jaga diri, narasi seperti ini yang harus diperkuat," ujar dia.

Baca juga: UNICEF: Baru 31 persen warga yang lakukan 3M sekaligus

Baca juga: UNICEF mulai amankan ratusan juta jarum suntik untuk vaksin COVID

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar