HNSI: Hasil tangkapan nelayan Cilacap anjlok akibat La Nina

id nelayan,tangkapan ikan,hnsi,dampak la nina

HNSI: Hasil tangkapan nelayan Cilacap anjlok akibat La Nina

Ilustrasi: Dua orang nelayan mencoba perangkat konverter Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG), untuk perahu mereka, yang dibagikan oleh Pemerintah, di Desa Cisuru, Gandrungmangu Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (21/10/2020). ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/foc. (ANTARA FOTO/IDHAD ZAKARIA)

Cilacap (ANTARA) - Hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menurun akibat La Nina moderat yang terjadi sejak Oktober, kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap Sarjono.

"Hasil tangkapan nelayan yang di tengah laut maupun di tepi berkurang sekali. Untuk tangkapan layur semua berkurang, kayak hilang terkena (dampak) La Nina," katanya di Cilacap, Senin.

Dalam hal ini, kata dia, arus di laut cukup kencang sehingga ikan-ikannya sulit ditangkap dengan menggunakan pancing maupun jaring. Bahkan, lanjut dia, terdapat perbedaan antara arus di permukaan laut dan arus di bawah laut.

"Arusnya berlawan. Dampaknya besar sekali bagi nelayan besar maupun nelayan kecil. Dalam satu minggu kemarin sama sekali enggak ada isinya (hasil tangkapan) dan baru hari ini (9/11) yang agak lumayan, mulai ada yang dapat ditangkap lagi, meskipun sedikit-sedikit," katanya.

Baca juga: Akademisi kelautan ingatkan dampak La Nina bagi nelayan

Ia berharap fenomena La Nina moderat segera menghilang agar nelayan bisa beraktivitas dengan normal dan mendapatkan hasil tangkapan secara maksimal.

Sarjono mengakui jika saat ini cuaca di laut selatan Jawa masih dalam masa peralihan musim angin timuran menuju musim angin baratan.

"Perkiraan masuk musim angin baratan pada bulan Desember. Saat ini perputaran anginnya masih antara selatan dan barat daya masih berebut," katanya.

Baca juga: Pendapatan nelayan anjlok, pemerintah diminta beli tangkapan nelayan

Terkait dengan hal itu, dia mengimbau nelayan tetap harus waspada terhadap kondisi cuaca saat memasuki musim angin baratan dengan mengikuti arahan dari BMKG.

Dia juga menyarankan nelayan memanfaatkan aplikasi Windy untuk bisa mengetahui posisi badai di lautan lepas guna melengkapi informasi prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG.

Menurut dia, hal itu disebabkan informasi prakiraan cuaca yang selama ini dikeluarkan BMKG hanya sebatas peringatan dini gelombang tinggi dan sebagainya yang bersifat umum tanpa menginformasikan lokasi pastinya.

Baca juga: KKP kirim surat edaran kepada pemda terkait nelayan

"Kalau menggunakan aplikasi Windy bisa diketahui lokasi yang akan ada lintasan badainya. Jadi, nelayan sebaiknya menggunakan keduanya, baik informasi dari BMKG maupun aplikasi Windy, bisa saling melengkapi," katanya.

Dalam kesempatan terpisah Ketua Rukun Nelayan Pandanarang, Pantai Teluk Penyu, Cilacap, Tarmuji mengakui hasil tangkapan nelayan dalam satu pekan terakhir mengalami penurunan.

"Satu minggu kemarin enggak ada tangkapan. Nelayan yang berangkat melaut, ketika pulang tanpa membawa hasil," katanya.

Baca juga: Harga ikan anjlok terdampak Corona, nelayan kurangi frekuensi melaut

Pewarta : Sumarwoto
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar