Guru Besar UI: Lihat manfaat vaksin bukan harganya

id Harga vaksin,vaksin COVID-19,vaksin mahal,vaksin 30 ribu,vaksin corona ,Manfaat vaksin

Guru Besar UI: Lihat manfaat vaksin bukan harganya

Guru Besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Prof dr Hasbullah Thabrany, MPH (kanan) dan Juru bicara Satgas COVID-19 dan duta adaptasi kebiasaan baru dr Reisa Broto Asmoro (kiri) saat diskusi daring dengan tema "Perhitungan Rugi-Rugi Kena Penyakit" yang dipantau di Jakarta, Senin. ANTARA/Muhammad Zulfikar

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Prof dr Hasbullah Thabrany, MPH meminta masyarakat agar melihat vaksin dari sisi manfaat bukan dari harganya apabila telah dilakukan oleh pemerintah.

"Mahal murahnya jangan dilihat dari uang, tapi berapa manfaatnya," katanya pada diskusi daring dengan tema "Perhitungan Rugi-Rugi Kena Penyakit" yang dipantau di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan apabila vaksin telah resmi diberikan oleh pemerintah dan setiap individu dikenakan biaya sebesar Rp30 ribu, maka seharusnya itu bukan menjadi masalah besar.

Baca juga: Guru Besar FK Unpad bantah isu vaksin COVID-19 tidak aman

Menurut dia, dengan harga vaksin Rp30 ribu tersebut bisa melindungi masyarakat dari paparan virus corona selama enam bulan ke depan. Jika satu bulan seorang individu memiliki penghasilan Rp5 juta maka selama enam bulan bisa mengumpulkan uang Rp30 juta.

"Mendingan kita keluarkan Rp30 ribu dan pendapatan Rp30 juta tetap bisa didapatkan," katanya.

Namun, apabila masih ada individu-individu yang merasa berat dengan jumlah tersebut dan memilih tidak divaksin, maka potensi tertular virus jauh lebih besar termasuk kerugian materi.

Apabila terinfeksi, minimal akan dirawat selama 14 hari dan otomatis selama itu tidak mendapatkan pendapatan. Oleh karena itu, ia mengatakan lebih baik masyarakat mengeluarkan uang Rp30 ribu untuk vaksin dari pada harus kehilangan pendapatan selama sakit.

Baca juga: 3M harus tetap dilakukan meski ada vaksin COVID-19

Prof Hasbullah berpandangan bagi masyarakat yang benar-benar tidak mampu atau termasuk ekonomi lemah maka tidak diharuskan membayar dan harus dibantu pemerintah. Namun, bagi masyarakat yang tergolong mampu wajib untuk membayar vaksin tersebut.

Terakhir, ia menilai orang-orang yang telah divaksin sama halnya dengan beribadah. Sebab, selain sudah terlindungi dari virus juga melindungi orang lain.

"Kita punya amal yakni mencegah orang lain terkena musibah," ujar dia.

Senada dengan itu, Juru bicara Satgas COVID-19 dan duta adaptasi kebiasaan baru dr Reisa Broto Asmoro mengatakan diperkirakan harga vaksin yang akan beredar di Indonesia sekitar dua dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp30 ribu.

"Katanya dua dolar, tapi mungkin bisa lebih dari itu," kata Reisa.

Baca juga: Menko PMK : Tidak semua orang akan divaksin COVID-19
Baca juga: Bio Farma: Tim uji klinis vaksin Sinovac tunggu hasil monitoring

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar