Wall Street turun tertekan lonjakan COVID-19, data penjualan ritel

id Wall Street,indeks Dow,indeks S&P 500,indeks Nasdaq

Wall Street turun tertekan lonjakan COVID-19, data penjualan ritel

Ilustrasi - Pialang sedang bekerja di lantai Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat. ANTARA/REUTERS/Shannon Stapleton/am.

New York (ANTARA) - Wall Street mundur dari rekor penutupan tertinggi dan berakhir lebih rendah pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena melonjaknya kasus COVID-19, meningkatnya ancaman dari putaran baru penguncian ekonomi, dan data penjualan ritel yang lemah meredam euforia yang disebabkan oleh potensi terobosan vaksin.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 167,09 poin atau 0,56 persen menjadi ditutup pada 29.783,35 poin. Indeks S&P 500 berkurang 17,38 poin atau 0,48 persen, menjadi berakhir di 3.609,53 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup 24,79 poin atau 0,21 persen lebih rendah, menjadi 11.899,34 poin.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih rendah, dengan utilitas ditutup merosot 2,01 persen, memimpin penurunan. Sedangkan sektor energi naik 0,5 persen, menjadi kelompok dengan kinerja terbaik.

Baca juga: Wall Street dibuka melemah setelah data penjualan ritel mengecewakan

Aksi jual adalah pembalikan dari reli pada Senin (16/11/2020), di mana saham unggulan Dow mencapai rekor penutupan tertinggi pertama sejak sebelum pandemi.

Kerugian Nasdaq dibatasi oleh lonjakan saham Tesla Inc, dan saham-saham berkapitalisasi kecil berkinerja lebih baik, dengan Russell 2000 mencapai rekor penutupan tertinggi baru.

Saham Tesla melonjak 8,21 persen di tengah berita bahwa pembuat kendaraan listrik AS akan ditambahkan ke indeks S&P 500 pada Desember.

Baca juga: Saham Inggris balik melemah, indeks FTSE 100 terpangkas 0,87 persen

Penjualan ritel AS meningkat 0,3 persen pada Oktober, menyusul kenaikan 1,6 persen yang direvisi turun pada September, Departemen Perdagangan melaporkan pada Selasa (17/11/2020). Estimasi median dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom memperkirakan penjualan ritel akan naik 0,5 persen pada Oktober.

Pertumbuhan penjualan ritel yang lebih rendah dari perkiraan mengindikasikan bahwa konsumen AS menjadi lebih ragu-ragu di tengah meningkatnya infeksi baru COVID-19 di negara tersebut.

"COVID tampaknya telah memperlambat pengeluaran antara September dan Oktober, dan hampir pasti akan melambat lebih jauh pada November," kata Chris Low, kepala ekonom di FHN Financial, dalam sebuah catatan Selasa (17/11/2020), menambahkan "musim dingin ini akan menjadi ujian berat bagi ekonomi."

Amerika Serikat telah melaporkan total lebih dari 11,2 juta kasus COVID-19 dengan jumlah kematian melebihi 248.000 pada Selasa sore (17/11/2020), menurut penghitungan oleh Universitas Johns Hopkins.

Pada Senin (16/11/2020), ekuitas AS menguat dengan Dow dan S&P 500 ditutup pada rekor tertinggi, didorong oleh berita yang menggembirakan tentang kandidat vaksin virus corona. Moderna Inc mengumumkan bahwa kandidat vaksin COVID-19-nya 94,5 persen efektif dalam mencegah infeksi.

Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar