Menristek dukung terbentuknya peta dunia inovasi ASEAN

id menristek,kecerdasan artifisial, ASEAN COSTI

Menristek dukung terbentuknya peta dunia inovasi ASEAN

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang P Brodjonegoro membahas sirkular ekonomi untuk atasi krisis iklim dalam diskusi publik yang diadakan AIPI bersama The Conversation Indonesia diakses di Jakarta, Senin (9/11/2020). (ANTARA/Virna P Setyorini)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mendukung terbentuknya peta dunia inovasi untuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

"Saya diinformasikan bahwa hasil lokakarya ini akan menghasilkan referensi bagi proyek-proyek tindak lanjut untuk mengerjakan persiapan seperti peta dunia inovasi ASEAN dan pengembangan makalah konsep regional masa depan tentang penelitian bersama terkait kecerdasan artifisial di ASEAN," kata Menristek Bambang dalam Lokakarya ASEAN: Penerapan Kecerdasan Artifisial dalam Efisiensi Energi, Keamanan Siber, dan Pertanian yang disaksikan virtual di Jakarta, Selasa.

Menristek Bambang menuturkan lokakarya tersebut merupakan bagian dari komitmen Indonesia pada pertemuan ASEAN Committee on Science, Technology and Innovation (COSTI) yang diselenggarakan pada 2019 di Bali.

Baca juga: Negara ASEAN sepakat kerja sama hadapi revolusi industri 4.0

Melalui lokakarya tersebut, Menristek Bambang menuturkan bahwa ia ingin mengetahui lebih jauh tentang penggunaan teknologi kecerdasan artifisial untuk memanfaatkan peluang besar dalam revolusi industri 4.0 dan memberikan semua manfaat bagi masyarakat di semua negara anggota di ASEAN.

"Di satu sisi kami ingin memastikan bahwa kecerdasan artifisial akan memberikan begitu banyak manfaat dalam meningkatkan produktivitas pekerja pabrik, ilmuwan dan insinyur, penyedia perawatan kesehatan untuk menerapkan inovasi," ujarnya.

Salah satu misi dari pemanfaatan kecerdasan artifisial adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan standar hidup masyarakat.

Namun, harus disadari bahwa revolusi industri 4.0 mungkin lebih banyak memberikan tantangan bagi anggota masyarakat yang lebih lemah yang berjuang untuk beradaptasi dengan perubahan cepat yang akan terjadi.

ASEAN Committee on Science, Technology and Innovation (COSTI) sebagai lembaga yang berwenang untuk mengelola ilmu pengetahuan dan teknologi dan inovasi di ASEAN berkomitmen untuk fokus mempersiapkan masyarakat ASEAN dalam menghadapi fenomena teknologi disruptif di era ini.

Baca juga: Kementerian angkat perkembangan iptek Indonesia ke tingkat ASEAN

Baca juga: Kemenristekdikti: ASEAN harus ambil peran dalam revolusi industri 4.0

Baca juga: Kemenristekdikti dorong kemitraan swasta dalam program inovasi ASEAN


"Saya percaya program ini secara efektif bertujuan untuk mengumpulkan peran kontribusi kita guna mengatasi berbagai masalah yang disebabkan perubahan cepat revolusi industri 4.0 untuk membangun kembali ekonomi dan mendorong penggunaan kecerdasan artifisial baik di bidang pertanian, energi hijau dan keamanan siber," kata Menristek Bambang.

Dia menyakini bahwa ASEAN COSTI dapat memimpin transformasi kawasan menjadi pusat keahlian dan pelatihan kelas dunia.

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar