Orang tanpa gejala COVID-19 justru paling banyak tularkan virus

id orang tanpa gejala,lapisan masker kain,OTG,aa

Orang tanpa gejala COVID-19 justru paling banyak tularkan virus

Pengendara motor melintas di dekat dinding bermural di terowongan Mayjen Sungkono, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (22/11/2020). Mural di dinding terowongan tersebut merupakan sarana imbauan kepada warga untuk tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Orang-orang yang terkena COVID-19 namun tidak menunjukkan gejala menjadi penyebab sebagian besar penyebaran penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Pada kebanyakan kasus COVID-19, orang tidak mulai menunjukkan gejala, seperti batuk, demam, dan sesak napas, sekitar enam hari setelah terinfeksi.

Selama rentang waktu itu, orang-orang yang positif bisa sangat rentan menularkan penyakitnya dan biasanya mereka tidak menyadari mengidap virus, dan menyebabkan penyebaran yang tidak disengaja.

Baca juga: 95 persen pasien positif COVID-19 di Aceh tanpa gejala

Baca juga: Anies: Tower 4-5 Wisma Atlet kapasitas 2.500 kamar siap tangani OTG


"Kebanyakan infeksi SARS-CoV-2 disebarkan oleh orang-orang tanpa gejala," kata CDC seperti dilansir dari Health, Kamis.

CDC memperkirakan lebih dari 50 persen dari semua infeksi ditularkan dari orang yang tidak menunjukkan gejala dan ini artinya setengah dari infeksi baru berasal dari dari orang yang mungkin tidak menyadari dirinya bisa menularkan virus ke orang lain.

Inilah alasan masker termasuk yang berbahan kain menjadi penting untuk memperlambat penyebaran COVID-19. Benda ini bisa menghentikan orang yang terinfeksi menyebarkan virus dan melindungi pemakainya terkena tetesan pernapasan orang lain.

"Manfaat penggunaan masker berasal dari kombinasi kendali sumber dan perlindungan pribadi untuk pemakainya. Masker kain tidak hanya secara efektif memblokir sebagian besar tetesan berukuran besar, tetapi juga dapat memblokir tetesan dan partikel halus (juga sering disebut sebagai aerosol) yang lebih kecil dari 10 mikron," kata CDC.

Di Indonesia, pemerintah bersama para pakar kesehatan sudah mengimbau pemakaian masker terutama saat berada di ruang publik. Masker yang dianjurkan antara lain berbahan kain dengan tiga lapis bahan sintetis tanpa tenun dan diatur agar lapisan filtrasi berada di tengah

Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyarankan lapisan kain bisa terdiri dari katun dengan dua lapisan chiffon mengandung polyester-spandex untuk menyaring 80-90 persen partikel.

Efektivitas masker kain yang sesuai standar untuk melindungi Anda dan orang di sekitar Anda dari COVID-19 juga terkait cara pakai secara benar, lalu penerapan jaga jarak satu meter satu sama lain, perilaku mencuci tangan rutin dan tindakan tidak memegang wajah dan masker sebelum mencuci tangan.

Sebelum memakai masker, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO merekomendasikan Anda mencuci tangan dulu, lalu memeriksa kondisi masker apa ada yang rusak atau tidak. Hindari mengenakan masker dengan tali yang longgar. Setelahnya, pakai masker menutupi hidung dan mulut tanpa memberi celah pada sisi-sisinya.

Baca juga: Pasien OTG COVID-19 tetap perlu tingkatkan daya tahan tubuh

Baca juga: 137 OTG teridentifikasi positif COVID-19 di Xinjiang

Baca juga: OTG di Pekanbaru tolak isolasi bakal tak dapat layanan sosial 6 bulan

Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar