Madrid nyalakan banyak lampu Natal meski ekonomi anjlok karena COVID

id madrid,spanyol,COVID-19,kasus COVID-19,virus corona jenis baru

Madrid nyalakan banyak lampu Natal meski ekonomi anjlok karena COVID

Ribuan bendera Spanyol dipasang sebagai penghormatan bagi para korban virus corona (COVID-19) di sebuah taman, di Madrid, Spanyol, Minggu (27/9/2020). REUTERS/Sergio Perez/AWW/djo

Madrid (ANTARA) - Ibu kota Spanyol, Madrid, menyalakan lampu Natal pada Kamis (26/11) dengan menghabiskan anggaran lebih banyak dibandingkan tahun lalu untuk menerangi 30 jalan dan alun-alun lagi meskipun ekonomi anjlok akibat pandemi virus corona.

Spanduk lampu LED dengan warna merah dan kuning bendera Spanyol muncul di beberapa bagian kota, termasuk di bentangan lebih dari satu kilometer di sepanjang jalan raya yang melewati museum terkenal di dunia, Prado.

Rangkaian lampu  biasanya merupakan daya tarik wisata yang penting, tetapi tahun ini jumlah orang yang turun ke jalan jauh lebih sedikit karena pandemi.

Biaya penerangan di lebih dari 200 jalan yang didekorasi dianggarkan sebesar 3,17 juta euro (sekitar Rp53 miliar), sedikit lebih tinggi dari 3,08 juta euro (sekitar Rp51 miliar) setahun yang lalu.

Rencana untuk membelanjakan lebih banyak lagi untuk lampu dibatalkan karena krisis COVID-19, kata dewan itu dalam sebuah pernyataan.

Spanyol memperkirakan hasil produksi ekonomi akan turun 11,2 persen tahun ini, setelah tumbuh dua persen tahun lalu, karena efek pandemi.

Spanyol mulai 23 November mensyaratkan hasil negatif tes virus corona, yang diambil dalam waktu 72 jam menjelang keberangkatan, pada wisatawan yang datang dari negara-negara dengan risiko tinggi penularan COVID-19, kata kementerian kesehatan, Rabu (11/11).

Aturan tersebut menambah serangkaian pembatasan di dalam negeri Spanyol.

Sebagai salah satu titik panas utama COVID-19 di Eropa dengan 1.417.709 kasus dan 40.105 kematian, Spanyol sejauh ini tidak meminta pengunjung untuk menunjukkan dokumen tes usap negatif pada saat kedatangan.

Sekarang, Spanyol akan menggunakan kriteria Uni Eropa untuk menentukan negara-negara mana yang diklasifikasikan berisiko tinggi, kata kementerian. Negara itu kini mewajibkan pengunjung menunjukkan sertifikat hasil tes COVID-19 dalam bahasa Spanyol atau Inggris di bandara.

Menteri Kesehatan Salvador Illa mengatakan aturan itu akan berlaku untuk negara-negara non-Uni Eropa (EU) dengan lebih dari 150 kasus per 100.000 orang selama 14 hari terakhir.

Negara-negara EU yang berada di atas tingkat kasus tersebut, atau negara EU dengan lebih dari 50 kasus per 100.000 dan dengan lebih dari empat persen hasil tes positif corona, juga akan dikenai peraturan soal tes COVID pada pengunjung.

Tidak akan ada pengujian di perbatasan darat Spanyol, kata Illa.

"Kami akan meminta maskapai penerbangan untuk berkolaborasi dan memeriksa tes PCR (usap) pelancong sebelum naik," kata Illa. Menkes menambahkan bahwa Spanyol tidak berencana memberlakukan karantina wajib pada warga asing yang baru datang.

Sumber : Reuters

Baca juga: Spanyol akan luncurkan program vaksinasi COVID Januari

Baca juga: Pemesanan kamar hotel di Spanyol anjlok 78 persen

Baca juga: Pendapatan pariwisata di Spanyol merosot akibat COVID-19


 

Sri Mulyani: pengangguran bertambah 2,67 juta akibat COVID-19


Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar