UMKM, menguntai asa dari ruang maya

id UMKM,pemasaran daring,dunia maya,digitalisasi umkm,yogyakarta

UMKM, menguntai asa dari ruang maya

Dokumentasi - Peserta mencoba memotret produk miliknya saat acara UMKM Jogja Go Digital di Sleman, DI Yogyakarta. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/ama/aa.

Yogyakarta (ANTARA) - Perkembangan dunia digital yang berlangsung secepat kilat, secara otomatis membuat ruang-ruang maya menjadi semakin tidak berbatas, bahkan orang yang semula sangat awam pun kini mau tidak mau mengenalnya secara perlahan namun pasti.

Termasuk para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Yogyakarta yang jumlahnya ribuan. Berdasarkan data, ada lebih dari 20.000 pelaku UMKM di kota tersebut.

Ruang-ruang maya tersebut menawarkan kecepatan dan kemudahan yang dibutuhkan pelaku UMKM untuk terus tumbuh bahkan mengepakkan sayap mereka.

Berbagai ide dan inovasi untuk memperbaiki kualitas produk dan mengetahui keinginan pasar bisa diperoleh secara mudah hanya dengan menyusuri mayantara yang menyajikan begitu banyak informasi.

Melalui ruang maya ini, pelaku UMKM bisa berhubungan langsung dengan konsumen. Tidak hanya konsumen di sekitar mereka untuk pasar lokal, bahkan mereka pun bisa langsung berhubungan dengan konsumen dari berbagai kota bahkan konsumen dari negara lain.

Untaian dari kecepatan, kemudahan, dan informasi berlimpah ini memberikan secercah harapan bagi pelaku UMKM untuk terus tumbuh terlebih dalam kondisi yang sulit di masa pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung sekitar 10 bulan.

Para pelaku UMKM di Yogyakarta pun mulai lebih sering menjelajahi ruang maya yang tidak terbatas ini, seperti yang sudah dilakukan oleh pelaku UMKM yang tergabung dalam Forum Komunikasi UMKM Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta.

Ketua Forum UMKM Kecamatan Umbulharjo Tuliswati bahkan tidak segan-segan memuji bagaimana para pelaku usaha mikro kecil sangat pintar dan cepat beradaptasi dengan dunia digital. Dari yang semula benar-benar buta dengan dunia digital, kini pelaku UMKM mulai memahami dan bisa memanfaatkannya.

Ia bahkan menyebut pelaku UMKM tidak lagi canggung ketika harus mempromosikan dan memasarkan produk mereka dengan memanfaatkan beragam platform digital, mulai dari aplikasi pesan, media sosial, hingga beragam marketplace yang tersedia melimpah.

Banyaknya pelatihan dan pembinaan yang dilakukan oleh sejumlah instansi pemerintah, baik Pemerintah Kota (Pemkot)  Yogyakarta maupun Pemerintah DIY semakin meningkatkan keterampilan dan rasa percaya diri pelaku UMKM untuk bersaing melalui dunia maya.

Aneka produk kuliner hingga kerajinan pun dapat dipasarkan dengan mudah. Pembeli tidak hanya datang dari Kota Yogyakarta dan sekitarnya, bahkan produk sudah dikirim ke berbagai kota seperti Jakarta, Malang, Jember, dan Medan.

Tuliswati bahkan menyebut di masa pandemi seperti saat ini pesanan produk kuliner justru lebih laris manis dari pemesanan secara daring melalui media sosial.

Aplikasi pemasaran yang disediakan oleh Pemkot Yogyakarta melalui Jogja Smart Service yaitu Nglarisi dan Dodolan serta aplikasi Si Bakul dari Pemerintah DIY juga menjadi beberapa media yang dimanfaatkan pelaku UMKM untuk memasarkan produknya.

Bagi Tuliswati dan pelaku UMKM lainnya, semakin banyak media sosial dan marketplace yang diikuti untuk memasarkan produk maka semakin besar pula peluang mereka untuk mengenalkan dan memasarkan produk serta memperoleh pembeli.

Di masa pandemi yang cukup sulit seperti saat ini, pelaku UMKM di Yogyakarta berharap agar ada program untuk saling nglarisi atau membeli produk antar UMKM sehingga terjadi pergerakan ekonomi.

Namun demikian, mudahnya pemasaran dari ruang-ruang maya tanpa batas ini ternyata tidak seluruhnya dirasakan oleh pelaku UMKM karena masih ada yang justru mengalami kesulitan untuk melakukan pemasaran secara daring.

Seperti yang dialami Miftahudin Nur Ihsan yang merintis usaha batik berlabel Smart Batik yang mengusung konsep batik dengan desain tematik unik.

Karena segmen pasar yang disasar adalah segmen khusus, maka pesanan secara daring justru tidak mudah diperoleh. 99 persen pesanan masih berasal secara offline dan hanya satu persen saja pesanan yang masuk secara daring.

Meskipun demikian, upaya pemasaran produk secara daring tetap dilakukan melalui banyak media, media sosial, marketplace hingga website yang dikelola secara mandiri.

Menurut wirausaha muda yang banyak memenangkan penghargaan tersebut, kunci untuk menguasai pemasaran secara daring adalah menyiapkan produk berkualitas dengan harga bersaing serta menguasai celah untuk menempatkan iklan produk di tempat yang tepat sehingga mudah dikenal oleh calon konsumen.

Baca juga: Perluas pasar, aplikasi JSS dilengkapi jual beli produk Yogyakarta


Nglarisi dan Dodolan

Pemkot Yogyakarta juga ikut memanfaatkan peluang jagat maya guna membantu pemasaran bagi pelaku UMKM bahkan warga Kota Yogyakarta yang baru saja merintis usaha mikro kecil di bidang apapun.

Peluang itu diwujudkan dengan membuat aplikasi, layaknya marketplace yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha mikro kecil maupun rintisan usaha untuk memasarkan produknya. Produk kuliner dipasarkan melalui Nglarisi, sedangkan produk lainnya melalui Dodolan.

Kedua program tersebut masuk dalam Program Gandeng Gendong yang diinisiasi Pemkot Yogyakarta untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menekan gini ratio yang masih cukup tinggi.

Bahkan Pemkot Yogyakarta menetapkan syarat khusus untuk kelompok usaha yang ingin bergabung dengan Program Nglarisi yaitu harus melibatkan warga miskin yang masuk dalam data keluarga sasaran jaminan perlindungan sosial (KSJPS) sebagai anggota kelompok.

Saat ini terdapat 235 kelompok usaha kuliner yang tergabung dalam Program Nglarisi. Program tersebut pada awalnya ditujukan untuk memberikan layanan jamuan makan dan minum dalam berbagai kegiatan yang digelar oleh Pemkot Yogyakarta.

Alih-alih memesan makanan dari restoran atau pelaku usaha jasa boga yang sudah memiliki nama besar, Pemkot Yogyakarta justru memesan jamuan makan dan minum ke kelompok usaha di masyarakat.

Pemkot Yogyakarta menyebut anggaran jamuan makan dan minum yang cukup besar dalam setahun, mencapai sekitar Rp40 miliar harus bisa memberikan manfaat bagi warga kota Yogyakarta untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Dengan pemikiran tersebut, maka dibentuklah Program Nglarisi agar anggaran jamuan makan minum bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Hanya saja, pandemi COVID-19 yang melanda pada 2020 menjadikan serapan anggaran untuk program tersebut tidak maksimal karena adanya rasionalisasi anggaran untuk penanganan COVID-19 sehingga serapan hanya tercapai sekitar Rp4,2 miliar.

Untuk tahun anggaran 2021 program tersebut kembali diakomodasi dan diharapkan serapannya kembali maksimal. Di awal tahun, Pemkot Yogyakarta sudah melakukan sosialisasi ke seluruh organisasi perangkat daerah terkait penggunaan anggaran jamuan makan dan minum.

Sedangkan untuk Dodolan, lebih bersifat sebagai upaya memberikan alternatif pemasaran bagi plaku UMKM di Yogyakarta untuk memasarkan produknya.

Hanya saja, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi berpesan agar kelompok usaha yang tergabung dalam Nglarisi dan Dodolan tidak hanya puas dengan memanfaatkan aplikasi tersebut sebagai satu-satunya cara untuk memasarkan produk.

Ia mengibaratkan Nglarisi layaknya sebuah toko. Jika di masa lampau seorang pengusaha berkeinginan untuk memiliki toko di banyak lokasi, tetapi dengan perkembangan dunia digital maka yang justru dapat dilakukan sebagai terobosan pemasaran adalah membuka toko digital di banyak marketplace.

Heroe pun berkeyakinan bahwa produk yang ditawarkan oleh kelompok usaha yang mengikuti Program Nglarisi dan Dodolan sudah semakin berkualitas sehingga mampu memenuhi keinginan pasar dan bersaing dengan produk lain.

Oleh karenanya, Heroe berpesan agar upaya untuk meningkatkan literasi digital bagi pelaku usaha perlu terus dilakukan sehingga tidak ada lagi gap antara cepatnya perkembangan teknologi, perilaku konsumen dan layanan terbaik yang ditawarkan pelaku usaha.

Literasi digital untuk pelaku suaha tidak hanya dilakukan dengan mengenalkan pelaku usaha dengan pemasaran daring tetapi juga mengenalkan pelaku usaha dengan layanan pembayaran daring yang sudah semakin mudah dan aman.

Meski demikian, DPRD Kota Yogyakarta masih memberikan kritik terhadap dua program tersebut. Nglarisi dan Dodolan memang menawarkan solusi bagi UMKM untuk memasarkan produk, namun belum memberikan dampak optimal.

Anggota DPRD Kota Yogyakarta Susanto Dwi Antoro menyebut, UMKM perlu untuk terus melakukan inovasi dan menyajikan produk sesuai permintaan pasar, sedangkan Pemerintah Kota Yogyakarta perlu berinovasi untuk mengembangkan aplikasi sehingga lebih ramah untuk pengguna.

Baca juga: Yogyakarta garap "Dodolan Kampung" kembangkan potensi wilayah


Pewarta : Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar