Kepala BMKG sebut intensitas hujan semakin tinggi setiap tahun

id BMKG, perubahan iklim, pemanasan global, mitigasi bencana

Kepala BMKG sebut intensitas hujan semakin tinggi setiap tahun

Kepala Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Prof Dwikorita Karnawati, M.Sc, PhD pada virtual meeting membahas tentang perubahan iklim pada pertemuan virtual, Kamis (11/2/2021). ANTARA/HO-BMKG/am.

Makassar (ANTARA) - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawatii mengatakan intensitas hujan semakin tinggi dari tahun ke tahun dengan siklus La Nina dan El Nino makin pendek.

"Kondisi ini dipengaruhi oleh perubahan iklim dan adanya pemanasan global," kata Dwikorita pada pertemuan virtual membahas tentang perubahan iklim diikuti di Makassar, Kamis.

Semakin tingginya intensitas hujan itu, lanjut dia, dapat ditelusuri dari hasil pantauan BMKG pada 2015 - 2017 yang rata-rata masih 120 - 137 mm, namun pada Januari 2020 intensitas hujan sudah mencapai 337 mm.

Baca juga: BMKG: Waspadai potensi hujan lebat di pegunungan di Sumut

Selain itu, lanjut dia, durasi atau lama hujannya pun lebih lama dalam sehari karena pengaruh perubahan iklim global yang disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri.

Sementara pencemaran udara akibat pembuangan karbondioksida (CO2) dari penggunaan teknologi gas emisi rumah tengga yang dibuang ke udara pada 2004 masih sekitar 272 bpm dan pada 2020 menjadi 400 bpm atau hanya rentang 16 tahun pada 2020 udara paling panas kedua setelah 2016.

Baca juga: BMKG: Waspadai potensi cuaca ekstrem sepekan ke depan

Fenomena lainnya, lanjut dia, BMKG sebelumnya sudah melakukan survei pada 2015 bahwa es di puncak Gunung Jayawijaya, Papua, akan habis pada 2020 akibat pemanasan global. Akibatnya angin siklon meningkat yang berpotensi menyebabkan puting beliung.

Kenaikan suhu udara global sesuai dengan kesepakatan negara-negara di dunia pada penandatangan konvensi Paris, diupayakan hanya 1 derajat Celcius per 10 tahun.

Baca juga: BMKG ingatkan sejumlah daerah masih berpotensi hujan lebat dan banjir

Namun kenyataannya Indonesia, sudah mengalami peningkatan temperatur udara 0,5 derajat Celcius dan jika masyarakat tidak mengubah perilaku dalam menjaga lingkungan, maka diyakini pada 2030 temperatur udara akan naik 0,5 derajat lagi.

Salah satu dampak serius dari perubahan iklim dengan adanya pemanasan global ini, siklus El Nino (kemarau panjang ) dan La Nina (musim hujan panjang) semakin pendek. Jika pada 1981 siklusnya 5 - 6 tahun, maka sejak 2020 El Nino dan La Nina siklusnya 2- 3 tahun saja.

Baca juga: BMKG rilis peringatan dini hujan lebat disertai petir-angin kencang

Karena itu kondisi tersebut harus diantisipasi ataupun beradaptasi, sehingga dampak negatifnya dapat ditekan. Hal itu diakui Kepala BMKG Wilayah IV Makassar Darmawan.

Sebagai gambaran, pihak BMKG telah membantu mengedukasi petani dan nelayan untuk beradaptasi dengan cuaca dan iklim, agar panen mereka tidak gagal dengan bekerja sama dengan pihak Dinas Pertanian dan Perikanan yang mengarahkan jenis tanaman ataupun ikan yang cocok pada musim tertentu.

Baca juga: BMKG: Banten, Jakarta, Jabar dan Jateng kategori siaga potensi banjir
Tangkapan layar pada pertemuan virtual membahas tentang perubahan iklim pada pertemuan virtual, Kamis (11/2/2021).
 

Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar