Harus dijaga kelestariannya, jalak tunggir merah endemik Sulawesi

id NTT, Kota Kupang, BBKSDA,burung jalak tunggir merah,endemik,Sulawesi

Harus dijaga kelestariannya, jalak tunggir merah endemik Sulawesi

Belasan burung jalak tunggir merah yang diamankan oleh BBKSDA NTT di Kupang, Kamis (18/2/2021). (FOTO ANTARA/HO-BBKSDA NTT)

Kupang (ANTARA) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alama (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) menyatakan bahwa burung jalak tunggir merah (Scissirostrum dubium) adalah burung endemik di Pulau Sulawesi sehingga perlu dijaga kelestariannya.

"Burung ini perlu dijaga kelestariannya sehingga tidak punah walaupun tidak dilindungi oleh undang undang," kata Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara kepada wartawan di Kupang, Kamis.

Sebelumnya, sebanyak 65 burung jenis jalak tunggir merah digagalkan peredarannya oleh BBKSDA NTT di Labuan Bajo, ketika hendak dibawa ke Bima, Nusa Tenggara Barat.

Penggagalan peredaran ini dilakukan karena pelaku berinisial S yang membeli burung itu dari Sulawesi Selatan tidak membawa dokumen yang sah dan dianggap melanggar hukum

Timbul Batubara mengatakan bahwa burung jalak tunggir merah adalah burung yang memang habitatnya berada pada daerah dataran rendah sampai dengan pegunungan berketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Suaranya yang tinggi dan nyaring melengking menjadi daya tarik bagi para penggemar burung berkicau sehingga tidak heran masih banyak aktivitas penangkapan serta penjualan burung ini, salah satunya seperti yang digagalkan di Labuan Bajo.

Burung jalak tunggir merah yang sering disebut dengan jalak rio-rio itu memang banyak beredar luas.

"Tetapi statusnya sebagai burung endemik Pulau Sulawesi, sehingga tentunya membutuhkan komitmen kita bersama untuk terus menjaga kelestariannya di alam liar," katanya menegaskan.

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya tidak menginginkan terjadinya penurunan populasi burung jalak tunggir merah di alam.

"Mencintai tidak harus memiliki kiranya ungkapan yang tepat untuk memutus pemanfaatan ilegal satwa liar. Biarkan saja satwa liar tetap mengembara bebas di hutan rimba," katanya.

Masyarakat diharapkan dapat berkontribusi terhadap pelestarian satwa liar di antaranya dengan menjaga dan melindungi hutan serta tidak melakukan perburuan liar, demikian Timbul Batubara.

Baca juga: Pelepasliaran dan upaya meningkatkan populasi di alam jalak putih

Baca juga: Pelepasan burung Jalak Putih puncak Hari Bhakti Rimbawan

Baca juga: Kebun binatang Bandung lepasliarkan 40 jalak kebo

Baca juga: Yokohama sumbang jalak bali ke Indonesia


 

Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar