Produksi bijih timah PT Timah 2020 turun 51,79 persen

id produksi timah

Produksi bijih timah PT Timah 2020 turun 51,79 persen

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2020 di Jakarta, Selasa (6/4/2021) disepakati Laporan Tahunan Tahun Buku 2020, dan perubahan Nomenklatur Pengurus Perseroan, TINS disepakati absen untuk tebar dividen tahun buku 2020. (ANTARA/ Aprionis)

Jakarta (ANTARA) - Produksi bijih timah PT Timah Tbk hingga Desember 2020 sebesar 39.757 ton atau turun sebesar 51,79 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya 82.460 ton, karena menurunnya permintaan pasar dunia sebagai dampak pendemi COVID-19.

"Dari total produksi bijih timah itu, 71,35 persen berasal dari penambangan darat, sedangkan sisanya 28,65 persen berasal dari penambangan laut," kata Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Muhammad Zulkarnaen saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2020 di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan produksi logam timah turun 40,18 persen menjadi sebesar 45.698 ton dari tahun sebelumnya sebesar 76.389 ton. Rendahnya produksi bijih timah ini, tidak menyurutkan TINS untuk memenuhi permintaan konsumen di tengah harga yang merangkak naik.

Baca juga: Strategi TINS bidik peningkatan produksi bijih timah

"Dengan memanfaatkan persediaan logam timahnya, TINS berhasil membukukan penjualan logam timah sebesar 55.782 ton atau turun 17,61 persen dari tahun sebelumnya 67.704 ton," katanya.

Menurut dia Tahun 2020 masih menjadi tahun yang cukup berat bagi hampir semua entitas bisnis di tanah air, tidak terkecuali TINS. Dalam skala global.

"Pandemi COVID-19-19 telah memicu berkurangnya persediaan logam timah di London Metal Exchange (LME), meski di sisi lain hal tersebut telah mendorong kenaikan harga yang cukup signifikan," katanya.

Baca juga: Menteri Luhut minta penegak hukum berantas penyeludupan timah

Ia menyatakan produksi timah dunia 2020 sebesar 327.200 ton atau turun 7,70 persen dari tahun sebelumnya sebesar 354.500 ton. Adapun tingkat konsumsi timah dunia 2020 turun 4,62 persen menjadi sebesar 342.600 ton dari tahun 2019 yang menyentuh 359.200 ton.

"Defisit timah dunia pada masa pandemi terus melebar dari sebesar 4.700 ton pada 2019 menjadi sebesar 15.400 ton pada 2020," katanya.

Ia menambahkan berdasarkan laporan konsolidasian untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2020, anak usaha MIND ID yang berkantor pusat di Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini berhasil mencatatkan penjualan sebesar 55.782 ton atau 16,28 persen dari total konsumsi timah dunia.

"Berdasarkan lokasi tujuan ekspor TINS, Asia menempati posisi teratas 68 persen, disusul Eropa 17 persen, Amerika 14 persen, sedangkan konsumsi domestik hanya berkontribusi 2 persen," katanya. 
 

Pewarta : Aprionis
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar