Khawatir gelombang keempat pandemi, Korsel tutup lagi hiburan malam

id gelombang keempat pandemi,Korea Selatan,Perdana Menteri Chung Sye-kyun

Khawatir gelombang keempat pandemi, Korsel tutup lagi hiburan malam

Para pejalan kaki memakai masker dan payung saat berjalan di bawah rintik hujan, di tengah pandemi virus corona (COVID-19), di pusat kota Seoul, Korea Selatan, Kamis (19/11/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Heo Ran/NZ/djo/am.

Seoul (ANTARA) - Korea Selatan akan menutup lagi kelab malam, bar karaoke, dan fasilitas hiburan malam lainnya setelah jumlah kasus COVID-19 meningkat, menurut otoritas pada Jumat.

Peningkatan jumlah kasus virus corona menimbulkan kekhawatiran akan potensi gelombang keempat pandemi.

Perdana Menteri Chung Sye-kyun mengumumkan pembatasan, yang mulai berlaku sejak Senin hingga tiga pekan ke depan, setelah kasus harian COVID-19 melonjak ke level tertinggi selama tiga bulan dalam beberapa hari belakangan.

Ia menyatakan jam malam pukul 22.00 dan larangan pertemuan lebih dari empat orang masih berlaku.

"Tanda-tanda gelombang keempat epidemi yang sudah kita tekan sekuat tenaga semakin dekat dan semakin kuat," kata Chung saat konferensi pers harian soal COVID-19.

"Kami akan terus mempertahankan tingkat pembataan sosial saat ini, namun secara gencar memperkuat berbagai langkah spesifik yang tergantung pada situasi."

Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korea (KCDA) melaporkan 671 kasus baru COVID pada Kamis (8/4), sehari setelah jumlah harian mencapai level tertinggi sejak awal Januari.

Klaster COVID bermunculan dari gereja, bar, dan pusat kebugaran. Fasilitas itu sebagian besar berada di area Seoul.

Total infeksi COVID-19 di Korsel berjumlah 108.269, dengan 1.764 korban meninggal.

Sumber: Reuters

Baca juga: Korea Selatan laporkan lonjakan kasus virus corona

Baca juga: Pemda Korsel tepis protes, wajibkan tes COVID untuk pekerja asing

Baca juga: Presiden Korea Selatan divaksin Astrazeneca anti COVID


 

Warga Korea Selatan bergegas membeli kereta luncur saat turun salju


Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar