Ari Dwipayana: Pandemi momentum untuk tetap kreatif

id Ari Dwipayana, sastra bali, pandemi COVID-19,Karya sastra

Ari Dwipayana: Pandemi momentum untuk tetap kreatif

Koordinator Staf Khusus Presiden AAGN Ari Dwipayana. ANTARA/HO-Dok.pribadi

Jakarta (ANTARA) - Koordinator Staf Khusus Presiden AAGN Ari Dwipayana mengatakan pandemi COVID-19 menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk tetap kreatif, salah satunya dengan melakukan mulat sarira melalui penulisan karya sastra.

"Pandemi menjadi momen penting bagi masyarakat untuk melakukan mulat sarira melalui penulisan karya sastra. Karena itu, momen ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menghasilkan kreasi-kreasi sastra terbaik, yang akan menjadi catatan sejarah atas peristiwa pandemi COVID-19," ujar Ari
dalam pengantarnya di acara workshop virtual Sastra Bali Modern yang diselenggarakan Yayasan Puri Kauhan Ubud, Gianyar, Jumat.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, acara workshop itu merupakan rangkaian kegiatan penulisan kreasi sastra, Sastra Saraswati Sewana, Pemarisuddha Gering Agung.

Ari Dwipayana yang juga Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud mengatakan melalui acara ini yayasan yang dipimpinnya tidak semata fokus pada perlombaan, adu kreasi, tetapi juga melakukan edukasi kepada peminat sastra Bali agar berani berkarya dan tidak takut menulis.

"Untuk mendorong keberanian menulis maka diselenggarakan workshop, baik sastra Bali modern maupun sastra Bali klasik," jelas Ari Dwipayana.

Baca juga: Isbedy terus ciptakan puisi meski di tengah pandemi
Baca juga: Gubernur Bali: sastra jadi media sebarkan nilai-nilai luhur


Workshop tersebut diikuti sekitar 300 peserta, dan turut dihadiri Staf Khusus Presiden RI bidang Kebudayaan Sukardi Rinakit.

Pada kesempatan tersebut Sukardi Rinakit menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas inisiatif Yayasan Puri Kauhan Ubud.

Sukardi Rinakit menjelaskan bahwa penulisan karya sastra ini, ibarat meletakkan memori baru ke memori lama. Menurutnya, penciptaan karya sastra, baik modern maupun klasik, sama artinya dengan mencatat sebuah kemajuan.

Lebih lanjut, Sukardi menegaskan bahwa dalam konteks Gering Agung, karya sastra bisa menjadi pemarisudha, menjadi doa.

"Sastra itu adalah doa, obat penyembuh yang semoga bisa membantu bangsa kita segera pulih dan bangkit dari pandemi COVID-19," ujar Sukardi.

Adapun dalam siaran persnya Ari Dwipayana mengatakan penyelenggaraan workshop dihadiri tiga pembicara yang merupakan penulis yakni I Ketut Sumarta, IGA Darma Putra dan Putu Supartika.

Baca juga: Pesta Kesenian Bali masukkan pelestarian bahasa-sastra
Baca juga: Bentara Budaya Bali tayangkan empat film adaptasi karya sastra


Ketut Sumarta memberikan motivasi dan tips kepada masyarakat agar tidak takut menulis, karena menulis itu mudah. Menurut Ketut Sumarta, menulis Bahasa Bali semakin menarik, karena bahasa Bali merupakan bahasa sastra, dengan kosa kata yang sangat kaya, sehingga memudahkan untuk berkreasi.

Pembicara kedua, IGA Darma Putra melanjutkan materi dengan materi menulis puisi berbahasa Bali. Ia memulai dengan menekankan pentingnya “kruna” atau “kata”, ejaan serta hal teknis lain yang sering menjadi pertanyaan bagi para sastrawan saat menuliskan karyanya.

Workshop ditutup paparan Putu Supartika, yang membahas penulisan cerpen Berbahasa Bali. Supartika menyampaikan paparan mengenai bagaimana membangun ide, mulai menulis, membangun alur hingga menutup cerita.

Putu Supartika, mengajak peserta untuk melakukan eksplorasi seluas-luasnya terhadap tema lomba yakni pemarisuddha gering agung, yang disebutkan memiliki sangat banyak sudut pandang yang menarik untuk ditulis.

Acara workshop Sastra Saraswati Sewana akan dilanjutkan pada tanggal 5 dan 6 Juni 2021 dengan bahasan Sastra Bali Klasik.

Baca juga: Gandeng Balai Bahasa DIY, Bantul lestarikan sastra Indonesia-Jawa
Baca juga: Pengamat : Sastra lisan bisa jadi media penguatan karakter

Pewarta : Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar