Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah AS diharapkan dapat mencegah rencana pembakaran Al Qur`an oleh komunitas Gereja "The Dove World Outreach Center", Gainesville, Florida,pada 11 September ini.

"Bagaimana pun umat Islam di seluruh dunia tidak akan rela kitab sucinya dibakar," kata Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan di Jakarta, Rabu.

Selain itu, menurut mantan direktur eksekutif Center for Information and Development Studies (CIDES) Jakarta ini, tidak ada alasan yang pantas dan dapat dipertanggungjawabkan bagi siapa saja untuk membakar kitab suci umat Islam ini.

Apalagi peristiwa pemboman Gedung WTC itu tidak bisa dikaitkan dengan motif agama Islam karena hasil penyelidikan otoritas keamanan AS justru menunjuk bukti keterlibatan jaringan teroris Al Qaeda.

Dengan demikian, tidak terdapat kaitan sama sekali dengan umat Islam maupun kitab suci Al Qur`an sebagai ajarannya, katanya.

"Peringatan tragedi 11 September dengan membakar Al Qur`an merupakan cara primitif dan hina, serta melawan kehidupan demokrasi terbesar milik bangsa Amerika Serikat sendiri."

"Di samping itu, aksi ini hanya akan menciptakan bumerang anti- Amerika secara meluas di dunia mana pun," kata Syahganda.

Menurut dia, rencana pembakaran Al Qur`an itu juga diyakini melahirkan bahaya serius bagi warganegara Amerika Serikat baik di negaranya maupun di kawasan lain akibat berkembangnya kemarahan yang sulit dihindarkan khususnya dari kalangan umat Islam.

"Konflik anti AS pun akan sulit dibendung selain konflik anti-agama tertentu yang melakukan pembakaran. Jika ini terjadi, sama halnya AS sengaja mengubur harmoni pluralisme beragama sebagaimana slogan yang didengung-dengungkannya selama ini, termasuk meniadakan kebebasan beragama di negaranya," katanya.

Padahal di negara Amerika Serikat, pertumbuhan umat Islam saat ini relatif cukup besar. Pembakaran Al Qur`an akan merusak bangsa Amerika dalam menjalankan agamanya itu.

"Masyarakat di Amerika tentu tidak ingin melihat adanya penghancuran ajaran suatu agama, dan pembakaran Al Qur`an dapat membuat umat beragama dihancurkan," katanya.

Jika Pemerintah AS membiarkan aksi pembakaran Al Qur`an itu terjadi, AS akan ditempatkan sebagai bangsa rasis yang dilindungi oleh negaranya.

Berkaitan dengan masalah ini, Reuters melaporkan dari Washington DC bahwa para pemimpin lintas-agama di Amerika Serikat juga mengecam gerakan "semangat anti-Muslim" di negara itu, terutama terkait dengan kampanye pembakaran Al Qur`an pada peringatan insiden 11 September.

Komandan pasukan AS di Afghanistan juga mengingatkan kalangan gereja di Florida yang menjadi inisiator gerakan pembakaran kitab suci kaum Muslimin tersebut.

Rencana tersebut, katanya, justru dapat membahayakan pasukan Amerika di luar negeri.

Para pemimpin Kristen, Yahudi dan Islam di AS menyayangkan disinformasi dan sikap intoleran sejumlah warga negara adidaya itu terhadap kalangan Muslim Amerika sebagai dampak dari rencana pembangunan gedung pusat komunitas Muslim dan masjid di dekat lokasi serangan 11 September 2001.

Aksi provokatif pastur gereja di Florida itu juga disayangkan Pemerintah AS.

Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri AS mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan sikap resmi pemerintahan Presiden Barack Obama yang menyayangkan rencana aksi pembakaran Al Qur`an itu.

"Kami rasa ini jelas aksi provokatif, tidak menghormati, tidak toleran, dan divisif," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, P.J.Crowley.

"Kami ingin melihat lebih banyak warga Amerika yang menentang seraya menegaskan bahwa (rencana aksi pembakaran Al Qur`an) ini tidak sesuai dengan nilai-nilai Amerika. Jelas, aksi ini `tidak-Amerika`," katanya.(*)
(T.D011/R009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010