Tingkat keterisian tempat tidur RSPI Sulianti Saroso capai 96 persen

id RSPI Sulianti Saroso,Kapasitas RSPI SS,RSPI

Tingkat keterisian tempat tidur RSPI Sulianti Saroso capai 96 persen

RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, pada Sabtu (7/3/2020). RSPI mulai merawat pasien COVID-19 pertama kali pada 2 Maret 2020. Ketika itu cuma ada dua pasien. ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira/am.

Jakarta (ANTARA) - Tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupancy Ratio/BOR) di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta Utara mencapai 96 persen pada Kamis.

Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Mohammad Syahril mengatakan, pasien yang dirawat adalah pasien COVID-19 dengan gejala sedang hingga berat.

"Keterisian tempat tidur atau BOR di Intensive Care Unit (ICU) sudah 100 persen, kemudian totalnya (ruang ICU ditambah ruang non-ICU) 96 persen," ujar Syahril dalam diskusi virtual di Jakarta, Kamis.

RSPI mulai merawat pasien COVID-19 pertama kali pada 2 Maret 2020. Ketika itu cuma ada dua pasien dengan 11 tempat tidur yang terisi.

Secara bertahap, fasilitas perawatan pasien COVID-19 di rumah sakit itu terus bertambah hingga sekarang sudah ada 124 tempat tidur. Dari 124 itu, 24 di antaranya ruangan Unit Perawatan Intensif (ICU).

Sehubungan dengan lonjakan kasus COVID-19 di Jakarta akhir-akhir ini, maka pihak RSPI Sulianti Saroso mengantisipasinya dengan cara menambah lagi ruang ICU sebanyak 41 tempat tidur sehingga total kapasitas bertambah menjadi 165 tempat tidur.

Baca juga: Jumlah pasien COVID-19 di RSPI Sulianti Saroso melonjak
Baca juga: Camat Kelapa Gading M Hermawan wafat akibat COVID-19

Direktur Utama Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Mohammad Syahril, saat ditemui di ruangannya, Kamis (17/6/2021). (ANTARA/Abdu Faisal)

Rencana penambahan tersebut disiapkan sampai pertengahan Juli 2021 mendatang.
Langkah menambah tempat tidur itu sebagai antisipasi kemungkinan menampung lebih banyak lagi pasien COVID-19 di ruang ICU maupun non-ICU.

Total tenaga yang dibutuhkan dengan adanya penambahan tersebut sebanyak 80 perawat dan dua dokter spesialis, yaitu Dokter Spesialis Radiologi dan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik. Selain itu juga dibutuhkan penambahan alat kesehatan dan sarana-prasarana pendukung lainnya.

Di samping itu, RSPI Sulianti Saroso juga sudah menyiapkan tenda bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) apabila terjadi penumpukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

"Tenda yang didapatkan dari bantuan BNPB itu akan dimanfaatkan untuk mengurai tumpukan pasien yang ada di IGD. Mudah-mudahan dengan tambahan ini, kami dapat melayani maksimal penanganan lonjakan kasus yang ada di Ibu Kota," ujar Syahril.

Syahril berharap skema rujukan perawatan ke RSPI Sulianti Saroso juga nantinya bisa betul-betul memperhatikan kondisi dan gejala pasien yang dirujuk.

"Kalau ke RSPI SS maupun Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, untuk kasus yang betul-betul berat dan kritis," kata Syahril.


Pewarta : Abdu Faisal
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar