PDPI: Tangani serius pandemi agar tak seperti kejadian di India

id Lonjakan COVID-19, India, PDPI

PDPI: Tangani serius pandemi agar tak seperti kejadian di India

Tangkapan layar Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Pusat, Erlina Burhan, saat menyampaikan keterangan kepada wartawan secara virtual, Ahad (27/6/2021). (ANTARA/Andi Firdaus).

Jakarta (ANTARA) - Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Pusat, Erlina Burhan meminta semua pihak serius menangani pandemi COVID-19 agar tak mengarah ke kejadian seperti di India baru-baru ini.

"Perlu serius menanganinya agar tidak mengarah seperti situasi pandemi di India," katanya saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Menurut dokter paru di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta Timur itu sejumlah varian baru SARS-CoV-2 yang India, saat ini seluruhnya telah ada di Indonesia.

Baca juga: Organisasi profesi dokter dorong pemerintah terapkan PPKM serentak

Salah satunya adalah varian Delta yang memiliki karakteristik lebih cepat menular serta membuat pasien mengalami kesakitan yang lebih parah dari virus terdahulunya, bahkan sanggup menurunkan efikasi vaksin.

"Salah satu yang menonjol dari Delta ini adalah gejala bersin, flu, batuk dan pilek. Kalau pasien bersin, dropletnya jatuh dan ada aerosol saat bersin. Kalau orang tidak pakai masker dan lewat di tempat pasien habis bersin, bisa terhirup udara mengandung COVID-19," katanya.

Erlina mengatakan saat ini sedang terjadi peningkatan persebaran SARS-CoV-2 dan SARS-CoV-2 varian baru lainnya seperti D614G, dan P1.

Baca juga: Pakar sebut mukormikosis tidak menular

Risiko lainnya, kata Erlina, adalah cakupan imunisasi di Indonesia yang masih di bawah 10 persen dari target sasaran. "Harusnya 180 juta yang tervaksin sekarang. Tapi belum sampai 13 juta yang dosis lengkap. Masih banyak yang rentan tertular dan ditambah Delta," katanya.

Erlina mengatakan situasi testing COVID-19 di Indonesia masih kalah dengan kemampuan India. "Tapi mereka (India) masuk dalam kategori kondisi kolaps (pelayanan rumah sakit). Jika kemampuan testing dan tracing Indonesia rendah, maka kita bisa saja dihadapkan pada situasi seperti di India," katanya.

Secara terpisah, Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Tjandra Yoga Aditama mengatakan Indonesia melakukan tes dalam jumlah yang memadai.

"Sebagai perbandingan saja, India juga menaikkan jumlah tesnya sampai 2 juta tes sehari, 10 kali lipat lebih tinggi dari rekomendasi WHO," katanya.

Baca juga: PDPI: ICU di rumah sakit vertikal dan BUMN penuh

Yang juga patut digaris bawahi, kata Tjandra, adalah angka kepositifan COVID-19 di India pada Mei 2021 lebih dari 20 persen dan sudah menurun tajam hingga sekitar 3 persen pada saat ini.

"Jumlah tes di Indonesia menurut laporan 26 Juni 2021 adalah 98.274 orang, sementara kita tahu penduduk kita kurang lebih seperempat penduduk India," katanya.

Berdasarkan data laporan pada Sabtu (26/6) menunjukkan angka kepositifan di Indonesia mencapai 19,8 persen.

"Tetapi kalau melihat kepositifan berdasar tes PCR adalah amat tinggi yaitu 37 persen dan kepositifan berdasar tes antigen hanya 1 persen saja," katanya.

Baca juga: PDPI ingatkan masyarakat tiga mekanisme penularan COVID-19

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar