Pemuda Suku Anak Dalam budidaya dan lestarikan jernang

id suku anak dalam sad,jernang,orang rimba jambi

Pemuda Suku Anak Dalam budidaya dan lestarikan jernang

Beberapa warga atau pemuda SAD yang sedang membudiyakan jernang yang dibina oleh PT LAJ.ANTARA/HO.

Jambi (ANTARA) - Sejumlah pemuda dari Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Tebo membudidayakan serta melestarikan jernang (dhaemorhop draco) merupakan tanaman rambat yang memiliki peran besar bagi orang rimba atau SAD di Provinsi Jambi.

Salah satu pemuda SAD bernama Natai, anak dari Temenggung Buyung, salah satu tetua adat Orang Rimba di Tebo, Jambi, bersemangat menyiapkan biji jernang yang akan dijadikan bibit, demikian keterangan resmi yang diterima, Kamis, dari PT Lestari Asri Jaya (LAJ) sebagai perusahaan yang peduli dan mendampingi warga SAD di Tebo.

Natai pemuda 20 tahun ini kini telah menyiapkan bibit jernang dari hasil cangkok untuk ditanam di lahan milik keluarganya.

"Ini adalah ilmu yang baru kami dapatkan setelah berkunjung dan belajar dari teman-teman yang sukses bertanam jernang di Taman Nasional Bukit Dua Belas," kata Natai.

Tidak hanya menyiapkan bibit, Natai dan beberapa pemuda orang rimba (SAD) lainnya kini juga sudah mengetahui cara merawat tanaman jernang dan harapan mereka dapat segera menanam jernang. "Kalau ilmu kami ini tidak diterapkan maka akan hilang," kata Natai.

Jernang dalam bahasa latinnya dhaemorhop draco adalah tanaman merambat yang memiliki peran sangat besar bagi masyarakat adat Orang Rimba, di antaranya sebagai obat. Jernang yang tumbuh di dalam hutan sempat menjadi primadona bagi seluruh orang rimba di Sumatera.

Namun, ketersediaan jernang di alam dari tahun ke tahun semakin berkurang. Ketika sedang mahal harga jernang bisa mencapai Rp7 juta hingga Rp9 juta per kilogram di level pengepul lokal.

Untuk saat ini harga jernang dijual warga SAD senilai Rp3 juta per kilogram dan di saat pandemi COVID-19 mempengaruhi harga jernang karena permintaan pasar menurun.

Baca juga: Gentar budidaya jernang untuk jaga rimba

Kader kelompok

Guna melestarikan jernang, Natai dan orang tuanya telah menanam seratus batang. Upaya ini juga diikuti oleh sekitar enam keluarga orang rimba lainnya. Hingga saat ini area pertanaman jernang mencapai enam hektar yang berlokasi di Wildlife Conservation Area (WCA) yang berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.

WCA Manager, Kurniawan menerangkan saat ini telah ada tujuh kepala keluarga dari Suku Anak Dalam yang mereka didampingi dalam upaya melestarikan dan budidaya jernang.

Kunjungan belajar yang difasilitasi oleh PT Lestari Asri Jaya (LAJ) tempat Kurniawan bekerja memiliki empat tujuan utama. Pertama mengajarkan teknik pembuatan bibit jernang dengan cara mencangkok dan mencabut tunas muda yang tumbuh di sekitar batang tua jernang.

Kedua tentang pemilihan biji yang baik untuk dijadikan bibit. Ketiga tentang perawatan tanaman jernang dan keempat upaya mengajak Orang Rimba (SAD) menanam jernang serta penambahan motivasi untuk pengembangan jernang lebih luas lagi.

"Kami banyak melibatkan anak-anak muda dari masyarakat adat Orang Rimba dalam pelestarian dan budidaya jernang ini. Mereka diharapkan akan menjadi kader, memotivasi dan menularkan ilmu yang sudah dimiliki kepada orang rimba di kelompoknya masing-masing,” kata Kurniawan.

WCA adalah kawasan yang didedikasikan oleh perusahaan karet alam berkelanjutan PT Royal Lestari Utama (RLU), melalui anak usaha PT LAJ, sebagai area konservasi yang berada di selatan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.

Di dalam area WCA itu Natai dan komunitas OR tinggal dan melestarikan jernang. Selain ada hutan yang perlu dijaga, di area seluas 9.700 He ini juga terdapat berbagai satwa yang dilindungi seperti gajah dan harimau Sumatera.

Baca juga: BPPT tingkatkan kualitas "Dragon Blood", bahan obat yang diburu China

Siapkan bibit

Direktur Corporate Affairs dan Sustainability PT RLU, Yasmine Sagita menerangkan perusahaan mendorong orang rimba atau SAD untuk membudidayakan jernang. Anak usaha RLU, PT LAJ, terus melakukan pendampingan, pemberian fasilitas budidaya dan transfer teknologi.

Diharapkan komunitas orang rimba ini tidak hanya dapat belajar tentang bagaimana bertanam jernang tetapi juga mengetahui cara mengatasi kendala, misalnya pengendalian hama dan penyakit, teknik pemanenan hingga penjualan buah jernang.

"Baru-baru ini kami memfasilitasi pemuda dari Orang Rimba untuk kunjungan belajar kepada warga telah sukses membudidayakan jernang di Taman Nasional Bukit Dua Belas,” kata Yasmine.

Setahun yang lalu PT LAJ juga memberikan pelatihan tentang jernang kepada Orang Rimba. Dari pelatihan ini Orang Rimba menjadi tahu bagaimana cara membuat biji jernang menjadi cepat berkecambah.

Dari biasanya selama enam bulan, sekarang cukup 20 – 22 hari saja. Kendala yang dihadapi oleh Orang Rimba di WCA dalam budidaya jernang adalah minimnya pengetahuan tentang perawatan.

Dari kunjungan belajar ini Orang Rimba mendapatkan pengetahuan tentang perawatan tanaman jernang. Seperti pentingnya ada ruang cahaya dan tidak harus intensif dibersihkan. Selain itu, cara membuat bibit jernang juga didapatkan yaitu dengan mengambil bibit dari tunas baru.

PT LAJ juga telah memberikan sebanyak 300 batang jernang siap tanam yang ditanam di dua lokasi Temenggung Orang Rimba. Sebanyak 11 kg buah jernang telah dibibitkan di pembibitan tanaman kehidupan Orang Rimba dan bibit ini nantinya akan ditanam di lahan WCA.

Tidak hanya melestarikan dan membudidayakan jernang, guna meningkatkan sumber penghasilan kelompok orang rimba atau SAD, perusahaan juga melakukan pengembangan kebun dan pembibitan Agroforestry untuk suku anak dalam dan pendampingan kepada kelompok wanita untuk membuat kerajinan tangan.

PT LAJ baru-baru ini juga membangun dan mengoperasikan Balai Pusat Pelayanan Orang Rimba, dimana balai pusat pelayanan SAD yang berlokasi di area Kelompok Temenggung Hasan ini dibangun atas inisiatif orang rimba sendiri.

Nantinya balai serupa juga akan dibangun di area kelompok orang rimba lainnya yaitu Kelompok Temenggung Buyung dan Bujang Kabut.Dengan beroperasinya balai ini kelompok SAD akan mendapatkan berbagai manfaat pelayanan terhadap hak-hak dasar secara lebih mudah dan terorganisir.

Keberadaan Balai Pusat Pelayanan membuat kegiatan pendidikan anak-anak orang rimba menjadi lebih intensif dibandingkan sebelumnya. Balai Pusat Pelayanan juga menjadi tempat transit dan beristirahat bagi orang rimba ketika sedang keluar dari hutan seperti untuk berbelanja dan keperluan lainnya.*

Baca juga: Seorang pencari jernang hilang di hutan Aceh Besar

Pewarta : Nanang Mairiadi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar