TPU Tegal Alur penuh, jenazah dialihkan ke Rorotan

id TPU Tegal Alur,Jakarta Barat,COVID-19,penuh,jenazah

TPU Tegal Alur penuh, jenazah dialihkan ke Rorotan

Petugas yang mengenakan APD memakamkan jenazah dengan protokol COVID-19 di TPU Tegal Alur, Jakarta, Selasa (29/12/2020). Pemprov DKI Jakarta menyiapkan lahan pemakaman di Rorotan sebagai antisipasi penuhnya TPU khusus COVID-19 di Pondok Ranggon dan Tegal Alur karena masih tingginya jumlah kematian akibat COVID-19. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc.

Jakarta (ANTARA) - Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, tidak lagi menerima jenazah karena penuh.

"Sudah penuh. Untuk (pasien) non COVID-19 dan COVID-19," kata Kepala Satuan Pelaksana TPU Tegal Alur Wawin Wahyudi saat dikonfirmasi, Kamis.

Dia mengatakan, saat ini jenazah yang datang dialihkan ke TPU Rorotan Jakarta Utara. Saat ditanya sejak kapan TPU dinyatakan penuh, Wawin enggan menjelaskan.

Dia juga tidak menjelaskan berapa jumlah jenazah yang dimakamkan di TPU tersebut. "Coba ke Dinas Pertamanan karena data ada di sana," kata dia.

Sebelumnya, TPU Tegal Alur ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi menjadi salah satu tempat pemakaman jenazah COVID-19. Bukan hanya memakamkan jenazah, TPU ini juga menerima jasa kremasi untuk jenazah pasien yang terpapar COVID-19.

Mesin krematorium itu merupakan pemberian dari Ketua umum Perkumpulan Sosial Himbunan Bersatu Teguh Sumbar-Riau Andreas Sofiandi.

Andreas memberikan mesin lantaran sebelumnya banyak warga yang kesulitan melakukan kremasi selama pandemi COVID-19.

Bahkan beberapa ada yang harus keluar Jakarta untuk kremasi. "Ada yang sampai harus ke Cirebon, Purwakarta, Bandung," kata dia.

Nantinya, untuk warga yang mau menggunakan mesin krematorium hanya perlu memberikan foto kopi KTP warga yang meninggal dan surat keterangan dari rumah sakit untuk kremasi.
Baca juga: Ratusan warga memaksa masuk ke TPU Tegal Alur untuk berziarah
Baca juga: Warga lintas agama dipastikan bisa gunakan krematorium TPU Tegal Alur

Pewarta : Walda Marison
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar