Changing Diabetes in Children luncurkan kemitraan di Indonesia

id Changing Diabetes in Children,cdic,Novo Nordisk,kemenkes,menkes,idai

Changing Diabetes in Children luncurkan kemitraan di Indonesia

Jumpa pers daring Penandatangan Virtual Program Changing Diabetes in Children (CDiC) oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Senin (30/8/2021). ANTARA/TL/Arnidhya Nur Zhafira.

Jakarta (ANTARA) - Indonesia resmi bergabung dalam Changing Diabetes in Children (CDiC), sebuah program kemitraan global yang memberikan bantuan terhadap anak dan remaja dengan diabetes tipe-1 (DMT1) di Indonesia.

Bersama Kementerian Kesehatan RI dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Novo Nordisk dan mitra globalnya menargetkan untuk menjangkau 3.000 anak dan remaja dengan diabetes dalam rencana tahap pertama program ini, dengan memanfaatkan 20 klinik dengan fasilitas kesehatan yang ditingkatkan serta dibantu oleh 1.000 tenaga kesehatan terlatih yang akan menyediakan perawatan dan penanganan.

Baca juga: IDAI: Edukasi dan kesadaran akan anak dengan diabetes penting

"Pada kesempatan ini, saya juga ingin mengajak semua pihak untuk meningkatkan kerjasama dalam mengatasi berbagai permasalahan kesehatan sehingga seluruh kebijakan dapat mendukung permasalahan tersebut," kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, ditulis pada Selasa.

Diabetes tipe-1 adalah penyakit kronis yang serius dan sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan. Dalam waktu sepuluh tahun terakhir, prevalensi DMT1 di Indonesia meningkat tujuh kali lipat, dari 3,88 per 100 juta penduduk pada tahun 2000 menjadi 28,19 per 100 juta penduduk pada tahun 2010.

Karena tingginya angka underdiagnosis (pasien yang tidak terdiagnosis) dan misdiagnosis (pasien dengan hasil diagnosis yang salah), angka pasti prevalensi DMT1 pada anak-anak diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan data yang sudah ada.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, (K), FAAP, FRCPI (Hon.), menyampaikan, di tahun 2018, jumlah populasi anak di Indonesia diperkirakan mencapai 79 juta. Meski demikian, IDAI mencatat hanya 1.249 anak Indonesia yang terdiagnosis dengan DMT1 selama periode 2017-2019.

"Penanganan diabetes tipe-1 harus komprehensif. Salah satu permasalahan yang kita hadapi terkait diabetes adalah data," kata Prof. Aman.

Bersama dengan Novo Nordisk, kerja sama ini akan membuat sistem registrasi melalui aplikasi. Aplikasi ini akan meliputi sistem registrasi, edukasi, rekomendasi pengobatan dan monitoring.

"Saya meyakini jika kita bisa membuat apliaksi yang komprehensif, Indonesia akan menjadi negara pertama yang memiliki sistem yang tepat bagi anak-anak dengan DMT1 dan membantu tiap aspek penanganannya," imbuhnya.

Novo Nordisk Indonesia bersama mitra globalnya akan bekerja sama dengan Kemenkes dan IDAI untuk meningkatkan komponen-komponen seperti peningkatan infrastruktur kesehatan yang sudah ada; pelatihan dan pendidikan tenaga kesehatan dan pendidik diabetes.

Lebih lanjut, penyediaan peralatan dan perlengkapan pemantauan glukosa darah; edukasi pasien untuk anak dan keluarganya; sistem registrasi pasien; dan pemahaman dan advokasi.

Indonesia sendiri merupakan negara ke-16 yang mengikuti kemitraan dengan CDiC, menurut Steering Committee CDiC, Cem Ozenc.

"Melalui kemitraan kami dengan Kemenkes dan IDAI, kami akan mulai menjangkau anak-anak rentan yang memiliki diabetes tipe-1 di seluruh Indonesia," tambah Vice President & General Manager Novo Nordisk Indonesia Anand Shetty.

Baca juga: Anak penyandang diabetes boleh vaksinasi COVID-19

Baca juga: Risiko diabetes lebih tinggi pada anak yang kegemukan

Baca juga: Prinsip 5201 untuk cegah diabetes pada anak

Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar