IESR: Teknologi penangkapan karbon kurang efektif atasi emisi karbon

id penangkapan karbon,teknologi CCS/CCUS,emisi karbon,gas rumah kaca

IESR: Teknologi penangkapan karbon kurang efektif atasi emisi karbon

Tangkapan layar Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa. (ANTARA/Sugiharto Purnama)

Jakarta (ANTARA) - Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS/CCUS) membutuhkan biaya mahal serta kurang efektif mengatasi emisi karbon.

"Biayanya itu kira-kira mencapai 600 dolar AS per ton untuk mengekstrak karbon," kata Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa di Jakarta, Selasa.

Fabby mengungkapkan harga karbon paling mahal saat ini senilai 120 dolar AS per ton ada di Swedia.

Baca juga: IETD 2021 serukan percepatan dekarbonisasi sistem energi

Bahkan apabila mengacu penggunaan teknologi carbon capture and storage/carbon capture,,utilisation, and storage  (CCS/CCUS)  sekarang untuk pembangkit listrik dalam proyek Petra Nova di Thompsons, Texas, nilai belanja modal sekitar 4.500 dolar AS per ton karbon dioksida.

Dia menyampaikan ada belasan pilot projects CCS/CCUS di seluruh dunia justru mengalami kegagalan untuk menurunkan emisi yang mereka janjikan dengan biaya yang sangat mahal tersebut.

"Menurut saya, ini perlu ada perspektif itu (mahal) ketika kita memasukkan target penurunan emisi gas rumah kaca dengan menggunakan sebuah teknologi tertentu," ujar Fabby.

Dia menambahkan bahwa teknologi untuk melakukan transformasi energi sebenarnya sudah tersedia terkhusus teknologi variable renewable energy, seperti angin dan surya yang dikombinasikan dengan storage.

Teknologi ramah itu lebih murah dan bisa dipakai karena Indonesia memiliki sumber daya angin dan surya.

"Untuk bisa menerapkan teknologi itu kita harus punya visi transformasi energi dalam perencanaan energi di masa depan. Kalau tidak punya visi tersebut saya kira akan sangat sulit untuk menerapkan teknologi terbaru," pungkas Fabby.

Baca juga: Pengamat sebut penerapan pajak karbon dapat dorong daya saing industri

Indonesia menargetkan netralitas karbon pada 2060 atau lebih cepat dengan dukungan negara lain.

Dalam upaya mencapai target itu pemerintah akan menggunakan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon dalam proses transisi energi.

Penggunaan teknologi CCS/CCUS menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam memastikan ketersediaan, keterjangkauan, keberlanjutan, dan daya saing untuk mencapai kedaulatan energi serta ketahanan iklim dan rendah karbon.

Pemanfaatan teknologi CCS/CCUS itu akan diterapkan pada sejumlah industri yang menghasilkan banyak karbon dioksida, di antaranya pembangkit listrik batu bata, industri pemrosesan gas alam, kilang minyak hingga pabrik-pabrik kimia.

Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar