DLHK telusuri indikasi pencemaran limbah batu bara di Aceh Barat

id Berita Aceh Terkini,Berita Aceh,Berita Aceh Terbaru,Batu Bara,Aceh

DLHK telusuri indikasi pencemaran limbah batu bara di Aceh Barat

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Aceh Barat, Bukhari. (ANTARA/Teuku Dedi Iskandar)

Meulaboh, Aceh (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh,menelusuri indikasi dugaan pencemaran lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Tujoh, Kecamatan Meureubo, diduga akibat bocornya pembuangan limbah batu bara.

“Sampelnya sudah kita kirimkan ke Balai Riset dan Standardisasi Industri Aceh, guna dilakukan pemeriksaan sampel air sungai diduga telah tercemar,” kata Kepala DLHK Kabupaten Aceh Barat, Bukhari di Meulaboh, Kamis.

Ia mengatakan, pemeriksaan sampel tersebut sangat diperlukan guna memastikan indikasi pencemaran lingkungan di DAS Krueng Tujoh, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat yang sebelumnya dilaporkan oleh masyarakat.

Baca juga: Polda Jateng datangi industri alkohol di bantaran Bengawan Solo

Ada pun sampel air sungai yang diduga telah tercemar tersebut masing-masing diambil di kawasan Desa Balee dan Ujong Tanoh Darat, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat.

Bukhari mengatakan, pemerintah daerah harus melakukan penindakan karena dampak dugaan pencemaran lingkungan yang diduga disebabkan oleh limbah batu bara tersebut, telah berdampak terganggunya ekonomi masyarakat termasuk petani.

Baca juga: Tingkat pencemaran DAS Citarum turun menjadi cemar ringan

Berdasarkan pengakuan dari kalangan petani di Desa Balee dan Ujong Tanoh Darat, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, sejak tiga hingga empat tahun terakhir petani di daerah ini tidak bisa lagi menanam padi karena selalu mengalami gagal panen.

“Ada sekitar 10 hektare lahan sawah di Kecamatan Meureubo Aceh Barat yang saat ini telah tidak bisa lagi ditanami, diduga akibat pencemaran limbah batu bara,” kata Bukhari.

Baca juga: Sungai Lubai Muaraenim Sumsel tercemar limbah pabrik karet

Oleh karena itu, pemerintah daerah saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan oleh Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand) Aceh, guna mengambil langkah selanjutnya terhadap persoalan dimaksud.

Selain dari Pemkab Aceh Barat, beberapa hari lalu sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) juga sudah turun ke lokasi guna melakukan pemeriksaan sampel air sungai, diduga telah tercemar akibat limbah batu bara, kata Bukhari menuturkan.

Pewarta : Teuku Dedi Iskandar
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar