STMIK Indonesia kupas pemanfaatan Augmented Reality di era Society 5.0

id stmik indonesia padang,ai,society 5.0,Artificial Intelligence

STMIK Indonesia kupas pemanfaatan Augmented Reality di era Society 5.0

Ketua STMIK Indonesia Padang, Masyhuri Hamidi, Ph.D saat menyampaikan kata sambutan dalam Seminar Nasional Informatika (Senatika) 2 di Padang, Selasa. (Antara/Mutiara Ramadhani)

Padang (ANTARA) - Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Indonesia, Padang menggelar Seminar Nasional Informatika (Senatika) kedua dengan mengupas "Trend Pemanfaatan Augmented Reality dan Artificial Intelligence Dalam Menghadapi Era Society 5.0" di Padang, Selasa.

Ketua STMIK Indonesia Padang, Masyhuri Hamidi, Ph.D, mengatakan bahwa dunia saat ini telah memasuki era revolusi industri general 5.0 yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem digital, kecerdasan artifisial, dan virtual.

"Saya mendengar bahwa Mark Zuckerberg akan segera mengubah nama Facebook menjadi Meta yang merupakan singkatan dari Metaverse yang berarti dunia online," ucapnya.

Ia mengatakan dengan hadirnya Metaverse ini maka orang akan dapat bermain game, bekerja, dan berkomunikasi dalam lingkungan virtual, dan seringkali menggunakan headset virtual reality (VR).

Baca juga: Korika: AIIS 2021 perkuat keinginan Indonesia jadi pemain penting AI

Baca juga: BRIN dan KORIKA adakan Artificial Intelligence Innovation Summit 2021


Sehingga masyarakat saat ini dihadapkan dengan teknologi yang memungkinkan pengaksesan dalam ruang maya yang terasa seperti ruang fisik.

Untuk menghadapi era society 5.0, diperlukan pendidikan yang dapat membentuk generasi kreatif, inovatif, serta kompetitif.

Hal tersebut dapat dicapai salah satunya dengan cara mengoptimalisasi penggunaan teknologi yang mampu menghasilkan output yang dapat mengikuti atau mengubah zaman menjadi lebih baik.

"Saya berharap dengan mengikuti seminar tersebut secara sungguh-sungguh, teman-teman akan mendapatkan materi yang segar dan insightful tentang Trend Pemanfaatan Augmented Reality dan Artificial Intelligence dalam Menghadapi Era Society 5.0," ujarnya.

Kepada para peserta Senatika 2, ia mengimbau agar tidak sungkan untuk mencatat poin-poin yang kurang jelas dan bertanya kepada pemateri saat sesi tanya jawab.

Seminar tersebut merupakan implementasi kerja sama antara STMIK Indonesia Padang dengan Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia, dimana STMIK Indonesia Padang diikutsertakan pada seminar kolaborasi dengan 6 PTS di selingkup LLDIKTI Wilayah X.

Adapun PTS yang menjadi mitra yaitu Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia Pekanbaru, Universitas Nurdin Hamzah Jambi, STMIK Royal Kisaran-Rumbai Pekanbaru, STMIK Kaputama Sumatera Utara, Universitas Bumigora Nusa Tenggara Barat, STMIK Jayakarta DKI Jakarta.

Selain untuk menambah wawasan, pelaksanaan seminar nasional juga dalam rangka menaikkan akreditasi Prodi Sistem Informasi STMIK Indonesia Padang dari B menjadi A.

Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan STMIK Indonesia Padang saat ini telah memiliki tiga Program Studi yakni Sistem Informasi, Informatika, dan Bisnis Digital.

"Pagi ini saya baru dapat kabar dari LLDIKTI Wilayah X bahwa SK Program Studi (Prodi) Bisnis Digital sudah keluar dan penyerahannya kemungkinan dilakukan dalam pekan ini," ucapnya.

Ia juga menyampaikan dengan tiga prodi yang ada, pihaknya menargetkan akan mengubah status menjadi universitas dengan melakukan submit dua prodi baru lagi karena syarat menjadi universitas haruslah memiliki 5 prodi.

Senatika 2 ini menghadirkan tiga pembicara utama yang profesional di bidangnya, yakni Profesor in Artificial Intellegence dari Universitas Bina Nusantara Prof. Dr.Ir. Widodo Budiharto, Dosen Sistem Informasi STMIK Indonesia Padang, Tri Apriyanto Sundara, M.T, dan Dosen Teknik Informatika, Universitas Nurdin Hamzah, Pariyadi, M.Kom.

Prof.Dr.Ir. Widodo Budiharto dalam pemaparannya mengatakan Artificial Intellegence (AI) atau kecerdasan buatan merupakan bidang di dalam ilmu komputer untuk mengembangkan sistem komputer yang mampu berfikir dan berperilaku seperti layaknya manusia.

"AI ini diibaratkan seperti seorang anak, dia dikatakan cerdas kalau bisa melakukan apa yang diperintahkan dengan baik. Begitupun dengan AI yang mampu melihat, bicara, bergerak, mengambil keputusan dengan cepat sebab kita butuh efisiensi," ucapnya.

Sementara Augmented Reality atau AR adalah sebuah teknologi memanipulasi realitas dengan menampilkan konten atau informasi digital melalui layar perangkat pengguna. AR menciptakan ilusi yang dilihat pengguna di dunia nyata.

Ia mengatakan era society 5.0 menggabungkan segala teknologi yang ada yang terkoneksi yang memudahkan siapa saja untuk mengaksesnya guna meningkatkan kesejahteraan dan kemudahan manusia.

Di akhir paparan, ia menyampaikan bahwa kemampuan mengembangkan teknologi baru adalah hal mutlak agar tidak bergantung dari para raksasa teknologi yang ada.

Dalam seminar nasional tersebut juga terdapat sebanyak 63 pemakalah. Sementara itu jumlah peserta secara keseluruhan sebanyak 416 peserta dengan reviewer sebanyak 19 orang dari mitra kerja sama.*

Baca juga: Fugaku, komputer tercepat yang bisa tandingi otak manusia

Baca juga: Wamenkumham: Sulit untuk mengkategorikan AI sebagai subjek hukum

Pewarta : Laila Syafarud
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar