Canberra/Sydney (ANTARA) - Duta Besar Prancis untuk Australia Jean-Pierre Thebault menuding Australia bertindak penuh tipu daya ketika tiba-tiba membatalkan kesepakatan pembangunan kapal selam bernilai multi-miliar dolar.

"Penipuan itu disengaja," kata Thebault kepada media di Canberra pada Rabu.

Thebault menyebut tindakan Australia seperti "menusuk dari belakang" karena kontrak pembangunan kapal selam berkaitan dengan kesepakatan bersama tentang kedaulatan yang "dikunci dengan transmisi data yang sangat rahasia".

Australia pada September membatalkan kesepakatan dengan kontraktor pertahanan Prancis, Naval Group, dan sebagai gantinya memilih untuk membangun sedikitnya 12 kapal selam bertenaga nuklir melalui kesepakatan baru dengan Amerika Serikat dan Inggris.

Aliansi baru yang dijuluki AUKUS itu dirancang untuk memberi Australia akses ke kapal selam bertenaga nuklir untuk pertama kalinya.

Keputusan itu telah menyebabkan keretakan hubungan bilateral, dengan Prancis menarik dubesnya dari Australia dan AS sebagai protes.

Thebault, yang kembali ke Canberra bulan lalu, pertama kalinya berbicara secara terbuka tentang hubungan Australia-Prancis.

"Ini bukan hal-hal yang dilakukan di antara mitra--apalagi di antara teman," kata Thebault, yang menyatakan bahwa pemerintah Prancis tidak bermasalah dengan orang-orang Australia.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menolak untuk mengomentari pernyataan Thebault.

"Klaim dibuat dan klaim dibantah, yang dibutuhkan sekarang adalah kita harus melangkah maju," kata Morrison kepada wartawan, dalam perjalanannya menuju Uni Emirat Arab setelah menghadiri KTT Perubahan Iklim PBB (COP26) di Skotlandia.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Minggu (31/10) mengatakan Morrison telah berbohong kepadanya tentang niat Canberra.

Morrison telah membantah klaim tersebut. Dia mengatakan dia sebelumnya telah menjelaskan kepada Macron bahwa kapal selam konvensional tidak akan lagi memenuhi kebutuhan Australia.

Morrison dan Macron berbicara pekan lalu sebelum pemimpin Australia itu secara terbuka meminta berjabat tangan dengan mitranya dari Prancis itu pada pertemuan G20.

Destabilisasi hubungan diplomatik yang biasanya dekat antara kedua negara sekarang terancam meluas ke bidang perdagangan.

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Australia Barnaby Joyce mengatakan Macron salah dengan menuduh Morrison berbohong.

"Kita memiliki seorang pemimpin politik besar yang menyebut perdana menteri Australia sebagai pembohong, dan Anda tidak dapat melakukannya secara diplomatis," kata Joyce kepada Australian Broadcasting Corporation.

"Ini bukan negara antah berantah... jika seseorang menyebut Anda pembohong, apa yang akan Anda lakukan? Anda harus mempertahankan posisi Anda dan mengatakan tidak."

Presiden AS Joe Biden pekan lalu mengungkapkan kejanggalan dalam penanganan pakta pertahanan baru dengan Australia dan Inggris.

Biden mengatakan bahwa dia mengira Prancis telah diberitahu tentang pembatalan kontrak sebelum pakta baru diumumkan.


Sumber: Reuters
Baca juga: Percekcokan Presiden Prancis, PM Australia bocor ke media
Baca juga: Macron: PM Australia berbohong tentang perjanjian kapal selam
Baca juga: Australia: Kembalinya dubes Prancis bantu perbaikan hubungan bilateral

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Atman Ahdiat
Copyright © ANTARA 2021