Kota Batu diminta waspadai potensi banjir bandang lain

id Kota Batu,Banjir Bandang, Waspada Banjir Bandang,Alih Fungsi Lahan,Jasa Tirta I

Kota Batu diminta waspadai potensi banjir bandang lain

Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan (kanan) menunjukkan peta hasil penelusuran pada sejumlah titik pada kawasan hulu Brantas yang dilakukan tim Jasa Tirta I kepada media, di Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (11/11/2021). (ANTARA/Vicki Febrianto)

Kota Batu, Jawa Timur (ANTARA) - Wilayah Kota Batu diminta untuk mewaspadai adanya potensi banjir bandang lain, usai Perum Jasa Tirta I melakukan penelusuran pada sejumlah titik pada kawasan hulu Brantas di wilayah tersebut.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan di Kota Batu, Jawa Timur, Kamis mengatakan bahwa berdasarkan penelusuran menggunakan drone pada wilayah hulu Brantas, ada sejumlah area yang mengalami perubahan tata guna lahan.

"Kami mengamati ada perubahan tata guna lahan, dan juga terdapat penumpukan sedimen di paras pematus. Sehingga, jika dikombinasikan dengan hujan yang cukup deras, akan terjadi aliran permukaan yang membawa kayu, dan material lainnya," kata Raymond.

Raymond menjelaskan, pihaknya telah melakukan penelusuran lahan di kawasan Pusung Lading yang merupakan titik awal penyebab terjadinya banjir bandang. Dalam penelusuran itu, ada wilayah lain memiliki karakteristik yang sama dengan Pusung Lading.

Kawasan tersebut adalah Glagah Wangi yang terletak di sebelah barat Pusung Lading. Pada kawasan Glagah Wangi, juga didapati adanya perubahan tata guna lahan sesuai hasil pantauan tim Jasa Tirta I menggunakan drone.

"Hasil dari drone sudah kami dapatkan. Kesimpulan kita memang ada perubahan tata guna lahan, tetapi ada juga kejadian dimana muncul longsor," ujarnya.

Baca juga: Warga terdampak banjir bandang kota Batu segera direlokasi

Baca juga: Kunjungi Kota Batu, Menteri PUPR tinjau penanganan banjir bandang


Menurut dia longsor yang terjadi bukan sepenuhnya menjadi sumber bencana banjir bandang. Namun, pada alur pematus (pengaliran pembuangan air) alami itu juga didapati sedimen tanah, batu dan serasah (sampah-sampah organik) yang tertimbun dan kemudian bisa terangkut bersama jika aliran air deras.

Ia menambahkan, kondisi pematus alami yang ada di blok Glagah Wangi hampir mirip dengan kawasan Pusung Lading. Jalur pematus pada blok Glagah Wangi tersebut, berbeda dengan jalur Pusung Lading yang telah mengalami banjir bandang.

Ia menambahkan, dengan kondisi lahan yang telah mengalami perubahan tentu harus dikembalikan secara perlahan. Namun, langkah untuk mengembalikan kondisi area itu, tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat.

"Kondisi lahan yang sudah berubah, tentu harus dikembalikan secara perlahan. Artinya, ini memerlukan upaya yang tidak bisa dilakukan hanya dalam satu hari saja," tambahnya.

Jasa Tirta I juga telah mengamati data terkait luas tutupan lahan yang ada di bagian hulu Brantas. Berdasarkan data sebelumnya, pada musim kemarau luas tutupan lahan yang berisi tanaman tegakan berkisar 19-25 persen.

"Idealnya lebih dari 30 persen tapi data yang kita miliki diantara 19-25 persen. Karena luas tutupan lahan itu dipotret dari citra satelit. Vegetasi itu sangat terpengaruh oleh musim," katanya.

Dengan kondisi tersebut, perlu adanya peningkatan kewaspadaan khususnya di wilayah Kota Batu agar bencana banjir bandang yang terjadi pada Kamis (4/11) dan mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia tersebut tidak terjadi lagi.

"Saat kita menghadapi kebencanaan, kata kuncinya barangkali kewaspadaan. Jadi di sisi pematus alami yang mengalami banjir bandang ini, masih ada alur pematus lain yang belum mengalami banjir bandang," ujarnya.

Hasil temuan lapangan Jasa Tirta I tersebut akan disampaikan kepada Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS), yang diharapkan bisa menjadi dasar untuk upaya pemulihan tata guna lahan, dan untuk menentukan kebijakan kedepan untuk mencegah terjadinya bencana.

"Kami akan sampaikan ke BBWS, termasuk Pemprov Jatim. Karena ini isu bersama, bukan salah satu pihak dan harus ada kerja sama," ujarnya.

Banjir bandang yang terjadi di wilayah Kota Batu pada Kamis (4/11) menyebabkan tujuh orang meninggal dunia akibat terseret arus atau tertimbun material banjir. Sementara tujuh lainnya ditemukan dalam kondisi selamat.

Selain itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu menyatakan ada 51 rumah rusak dan delapan diantaranya hanyut terbawa arus banjir bandang yang terjadi kurang lebih pukul 15.00 WIB itu.

Selain itu, 32 rumah lainnya terendam lumpur akibat bencana banjir bandang tersebut. Banjir bandang juga menyebabkan sebanyak 124 keluarga terdampak. Kemudian 46 kendaraan roda dua dan 11 kendaraan roda empat mengalami kerusakan.

Baca juga: BPBD Kota Malang catat 600 keluarga terdampak banjir bandang

Baca juga: Cerita pilu korban banjir bandang di Kota Wisata Batu

 


Pewarta : Vicki Febrianto
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar