Epidemiolog ingatkan tidak boleh abai meski kasus COVID-19 melandai

id covid-19,satgas covid-19,protokol kesehatan

Epidemiolog ingatkan tidak boleh abai meski kasus COVID-19 melandai

Tangkapan layar - Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, dalam diskusi virtual, dipantau dari Jakarta, Selasa (30/11/2021). ANTARA/Prisca Triferna.

Jakarta (ANTARA) - Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan bahwa tidak boleh ada tindakan abai meski kasus COVID-19 di Indonesia saat ini tengah melandai dan sudah banyak yang telah menjalani vaksinasi COVID-19.

“Di tengah pelandaian sebetulnya momentum yang punya dua sisi yang harus kita apresiasi, tapi di satu sisi ini yang harus kita waspadai. Karena cenderung, di manapun dalam pengamatan saya, kalau melandai, abai,” ujar Dicky dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9 yang dipantau dari Jakarta pada Selasa.

Dicky mengatakan melandainya kasus COVID-19 di Indonesia saat ini adalah hal yang harus diapresiasi, karena merupakan buah usaha dari pekerjaan yang tidak mudah dan melalui banyak pengorbanan.

Pelandaian itu, terutama dari gelombang kedua saat angka penularan COVID-19 meningkat, dan usaha yang harus dilalui untuk mencapainya harus diingat agar tidak terjadi lagi situasi yang sama.

Dia mengingatkan bahwa krisis yang diakibatkan pandemi belum usai di Indonesia dan masih ada beberapa pekerjaan rumah seperti cakupan vaksinasi yang perlu semakin diperbanyak terutama di luar Jawa dan Bali.

“Namanya potensi gelombang ketiga, namanya ancaman varian baru apapun itu adalah juga dipengaruhi seberapa banyak jumlah penduduk kita yang rawan secara imunitas,” tegas Dicky.

Untuk itu protokol kesehatan 5M serta upaya 3T dan vaksinasi menjadi langkah yang harus dilakukan untuk mewaspadai masih adanya potensi penularan COVID-19 di tengah masyarakat.

Dia juga menyoroti pentingnya peningkatan surveilans untuk memastikan pemahaman pengambil kebijakan terhadap situasi penyebaran varian yang dan karakternya.


Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar