Seorang Jamaah Naqsabandiyah Rejang Lebong meninggal saat "suluk"

id jamaah naqsabandiyah,suluk,meninggal dunia,jamaah tarekat,kabupaten rejang lebong

Arsip. Aktivitas Jamaah Suluk Aceh. Jamaah Suluk yang menutupi mukanya dengan surban membaca tasbih dalam aktivitas ibadah kepada Allah SWT di Daya Seuramoe Daraussalam, Braden, Peukanbada, Aceh Besar, Aceh, Selasa (1/7). Aktivitas Suluk atau zikir yang pengajarannya menyangkut Ilmu Tarikat itu berlangsung selama bulan ramadan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan amalan. (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Rejang Lebong (ANTARA News) - Seorang jamaah Tarekat Naqsabandiyah Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, yang sedang mengikuti "suluk" atau zikir bersama yang dijadwalkan selama sepuluh hari sepuluh malam dalam bulan Ramadhan 1439 Hijriah ini meninggal dunia.

Wakil Ketua Umum Tarekat Naqsabandiyah Rejang Lebong, M Eddy Rusman ditemui di perguruan Tarekat Naqsabandiyah di Desa Suka Datang, Kecamatan Curup Utara, Selasa, mengatakan, dari 486 peserta suluk gelombang pertama terdapat satu orang yang meninggal dunia pada Senin (28/5) siang sekitar pukul 12.25 WIB atas nama Katinem (53).

"Peserta yang meninggal dunia ini sudah diantar oleh petugas ke daerah asal di Desa Sungai Belida, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumsel, pada Senin tanggal 28 Mei kemarin," katanya.

Selain adanya korban meninggal dunia yang mengikuti kegiatan zikir selama 10 hari 10 malam dalam setiap bulan Ramadhan ini juga lima orang lainnya dikembalikan ke daerah asalnya karena sakit, dan ada juga yang meminta dipulangkan karena tidak sanggup mengikutinya.

"Berdasarkan hasil diagnosa dari petugas medis RSUD Curup diketahui korban meninggal dunia karena mengidap penyakit gula darah dan hypertensi," ujarnya.

Katinem, kata dia, awalnya masih sehat, cuma mengeluh sesak napas dan kemudian berobat di klinik yang ada di peguruan Tarekat Naqsabandiyah, namun kemudian dirujuk ke RSUD Curup dan setengah jam dirawat meninggal dunia.

Sementara itu untuk lima orang lainnya yang dipulangkan oleh panitia suluk, tambah dia, karena menderita sakit atau tidak sanggup mengikuti kegiatan ini antara lain Sri Indah warga asal Way Kanan, Provinsi Lampung. Dedi Irawan, warga Kota Lubuklinggau, Sumsel.

Selanjutnya Dermawan, asal Pakuan Agung Lampung Utara, Lampung. Seterusnya Salman HS juga berasal dari Pakuan Agung Lampung Utara. Juliyono asal Batu Winangun Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumsel.

Selain itu ada lima orang yang pulang, dia menambahkan, juga terdapat dua orang yang dirawat di RSUD Curup sejak Selasa (29/5) atas nama Umar Farruk (30) asal Way Kanan Lampung, dan Sumarno (56) yang berasal dari Belitang, OKU Timur, Sumsel.

Pewarta : Nur Muhamad
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar