Sistem pengulangan video permudah proses penilaian juri

id Silat asian games,Silat,asian games 2018

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kelima kiri), Menpora Imam Nahrawi (keempat kanan) dan Ketua Harian Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Edhy Prabowo (kelima kanan) berpose dengan atlet dan ofisial pelatnas pencak silat di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Senin (6/8/2018). Presiden optimis atlet pencak silat akan memperoleh lebih dari dua medali emas pada ajang Asian Games 2018. (ANTARA /Wahyu Putro A)

Jakarta (ANTARA News) - Sistem pengulangan video pada pertandingan pencak silat dapat mempermudah juri dalam menilai.

Pelatih pencak silat tim Indonesia Abas Akbar saat ditemui di Padepokan PencaknSilat TMII, Jakarta, Kamis mengatakan sistem ini adalah ketentuan baru dalam pertandingan pencak silat dan pertama diterapkan di Asian Games.

"Ini terobosan baru dalam pertandingan pencak silat, jika ada pihak yang keberatan dengan penilaian juri, dapat mengajukan kartu untuk melihat apakah penilaiannya benar atau tidak," kata dia.

Setiap pertandingan masing-masing tim diberi dua kartu yang dapat dipergunakan saat ada penilaian yang dirasa kurang tepat.

Dengan kartu tersebut dewan juri akan memutar kembali adegan saat gerakan tersebut dan ditayangkan di layar lebar yang dapat dilihat oleh penonton di arena tersebut.

Saat pertandingan Porntep Poolkaew dari Thailand melawan Iqbal Candra Pratama dari Indonesia tim Indonesia sempat mengeluarkan kartu tersebut agar gerakan sebelumnya diulang dan ditayangkan di layar lebar.

Menurut Abas, setiap tim harus mempunyai strategi untuk menggunakan kartu tersebut.

Dengan adanya sistem ini diharapkan pencak silat dapat dipertandingkan di Oimpiade karena sistem penilaiannya sudah akurat. 

"Pertandingan pencak silat sekarang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, saya harap dengan semakin adilnya penilaian, maka dapat dipertandingkan di Olimpiade," kata dia.

Baca juga: Empat atlet silat Indonesia berlaga di hari pertama

Pewarta : Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar